ASIAWORLDVIEW – Dalam sebuah studi baru, para peneliti dari Tepper School of Business dan universitas lain meneliti dampak jenis kelamin dan ras avatar pada harga transaksi di pasar NFT. Mereka menemukan bahwa bertentangan dengan ekspektasi, ada perbedaan gender dan ras yang nyata dalam harga NFT.
Mereka juga menemukan bahwa avatar dengan fitur yang terkait dengan teknologi tinggi atau pendidikan tinggi dapat mengatasi kesenjangan ini. Para penulis menawarkan wawasan tentang strategi kebijakan untuk mempromosikan kesetaraan ras dan gender di pasar NFT.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Tepper School di Carnegie Mellon University, New York University, dan Harvard University ini muncul di International Journal of Research in Marketing.
Baca Juga: Game NFT Makin Banyak, Perluas ke Penggguna Baru
“Berdasarkan pengamatan bahwa investor NFT sering kali mewakili demografi yang lebih muda, lebih kaya, dan lebih progresif secara politis, kami berusaha untuk menentukan apakah pasar ini mungkin kurang rentan terhadap prasangka dan bias sosial,” kata Yuan Yuan, seorang mahasiswa Ph.D. di bidang pemasaran di Carnegie Mellon’s Tepper School of Business, yang memimpin penelitian ini.
“Karena pasar NFT terus berkembang dan semakin memanfaatkan komunitas digital sebagai aset merek, pertanyaan seperti itu akan menjadi semakin penting.”
Gender dan ras adalah faktor kunci yang dapat menyebabkan diskriminasi dan ketidaksetaraan dalam bidang-bidang seperti pemasaran dan ekonomi. Kesenjangan ini berdampak pada keadilan dan kinerja pasar NFT, di mana foto kepala avatar berfungsi sebagai representasi identitas digital individu. Dalam penelitian ini, para peneliti berusaha untuk mengidentifikasi efek gender dan ras avatar pada harga NFT, bagaimana efek ini bervariasi dari waktu ke waktu, dan apa yang dapat dilakukan penyedia untuk mengurangi kesenjangan.
