ASIAWORLDVIEW – Pengangguran di Indonesia merupakan masalah yang kompleks. Indonesia tahun ini akan memiliki tingkat pengangguran tertinggi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), demikian prediksi Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook.
Dari 279,96 juta penduduk Indonesia, sekitar 5,2% menganggur, relatif tidak berubah dari 5,3% tahun lalu.
Filipina berada di urutan kedua dengan 5,1%, diikuti oleh Brunei Darussalam (4,9%), Malaysia (3,52%), Vietnam (2,1%), Singapura (1,9%), dan Thailand (1,1%).
Baca Juga: Pengangguran di Indonesia Juga Terjadi akibat Pembangunan Tak Merata
IMF mendefinisikan tingkat pengangguran sebagai persentase penduduk usia produktif 15-64 tahun yang sedang mencari pekerjaan. Sementara itu, penduduk usia produktif yang tidak mencari pekerjaan, seperti pelajar dan ibu rumah tangga, tidak termasuk di dalamnya.
Meskipun demikian, tahun 2024 terjadi penurunan tingkat pengangguran di hampir semua tingkat pendidikan dibandingkan tahun lalu. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), seperti dilansir dari Detikcom, Jumat (26/7), tingkat pengangguran terbuka per Februari turun 0,63 persen YoY menjadi 4,82 persen.
Angka pengangguran di Indonesia bervariasi, tergantung pada kondisi ekonomi, sektor industri, dan lokasi. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berusaha menurunkan tingkat pengangguran melalui berbagai program.
- Resesi atau perlambatan ekonomi dapat menyebabkan peningkatan pengangguran. Banyak lulusan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan oleh pasar kerja.
- Banyak pekerja di sektor informal yang tidak terdaftar, sehingga sulit untuk menghitung angka pengangguran secara akurat. Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengatasi pengangguran, seperti pelatihan keterampilan, program wirausaha, dan dukungan untuk industri kecil dan menengah.
