Wamen Dyah Roro Esti Dorong Fashion Indonesia Mendunia lewat Jakarta Fashion Week 2027

Wamen Dyah Roro Esti

ASIAWORLDVIEW – Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan wastra, keberagaman budaya, kreativitas para desainer, serta keterampilan pelaku usaha yang menjadi fondasi kuat bagi pengembangan industri fashion berdaya saing global. Namun, potensi tersebut perlu didukung melalui integrasi industri dari hulu hingga hilir, inovasi yang berkelanjutan, serta kolaborasi erat antara desainer, pelaku usaha, UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan agar mampu menghasilkan produk yang tidak hanya kreatif, tetapi juga kompetitif di pasar internasional.

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri. Ia menyerukan penguatan daya saing sektor fesyen nasional melalui integrasi industri dari hulu ke hilir, inovasi berkelanjutan, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memperluas jangkauan pasar global. Ia menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut vital untuk mengoptimalkan potensi industri fashion nasional.

“Sektor fashion Indonesia memiliki potensi besar, didukung oleh kreativitas yang kuat dan karakter produk yang khas,” ujar Roro, dikutip Selasa (27/10/2026).

Baca Juga: Jakarta Fashion Week 2027 Dorong Penguatan Wisata Belanja dan Industri Fashion Nasional

Ini menjadi panggilan untuk bangkit—sebuah ajakan bagi para desainer, pengrajin, dan pelaku UMKM untuk melihat diri mereka bukan sebagai pemain kecil di pasar domestik, melainkan sebagai calon bintang di panggung dunia.

“Ke depan, kita harus memperkuat daya saing agar produk fesyen lokal tidak hanya dikenal, tetapi juga mampu bersaing dan memiliki daya tarik yang lebih besar di kalangan konsumen global,” tambahnya.

Kinerja ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia sendiri telah menunjukkan pertumbuhan positif. Antara Januari dan Agustus, ekspor mencapai US$8,15 miliar, menghasilkan surplus perdagangan sebesar US$2,18 miliar. Pakaian siap pakai muncul sebagai kontributor terbesar, menyumbang US$5,90 miliar—sekitar 72,4 persen—dari total ekspor TPT, menandai kenaikan 2,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Roro menekankan perlunya meningkatkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri, memajukan desain produk, memastikan kepatuhan terhadap standar internasional, dan memperkuat kolaborasi lintas sektor antara industri, desainer, dan UMKM. Kementerian Perdagangan sendiri telah berjanji mendukung inisiatif ini melalui pengembangan produk yang terarah, promosi perdagangan yang agresif, dan strategi perluasan pasar yang dirancang untuk memperkokoh posisi Indonesia dalam jaringan perdagangan global.

Ia juga uga mengapresiasi kehadiran platform seperti FashionLink dan Dewi’s Luxe Market yang dinilai mampu menjembatani desainer serta pelaku UMKM dengan konsumen dan pembeli potensial. Baginya, ajang fesyen tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk memamerkan karya, tetapi juga harus mampu menciptakan peluang bisnis, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka akses ekspor yang lebih luas bagi produk fashion Indonesia.

Kementerian Perdagangan pun berkomitmen mendukung pengembangan industri fashion melalui promosi perdagangan, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar. Hal ini dilakukan agar pelaku industri kreatif nasional dapat memanfaatkan potensi pasar fesyen global yang terus berkembang

Ia juga menunjuk kolaborasi internasional yang sedang berjalan, seperti kemitraan tahun kedua kementerian dengan DORS yang berbasis di Singapura, dengan harapan bahwa inisiatif semacam itu akan matang melampaui pameran sementara.

“Kami berharap kemitraan ini tidak berakhir dengan pameran atau peragaan busana, tetapi justru berkembang menjadi hubungan bisnis jangka panjang yang memberikan peluang nyata bagi desainer dan pelaku usaha nasional kita,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *