ASIAWORLDVIEW – Halloween di Korea Selatan kini tak hanya identik dengan kostum dan pesta “trick or treat”. Di pasar barang bekas, tren “trick or trade” semakin terlihat. konsumen berburu merchandise edisi Halloween dari karakter favorit, mulai dari boneka Sanrio bertopi labu hingga acrylic stand Demon Slayer yang mengenakan jubah khusus.
Bagi penggemar, mengenakan kostum selama satu hari bukan lagi satu-satunya cara merayakan Halloween. Mereka juga mencari versi musiman dari karakter kesayangan untuk dikoleksi—dan, jika edisinya terbatas, mungkin sulit ditemukan kembali setelah perayaan usai. Pergeseran ini menunjukkan bahwa belanja Halloween semakin dekat dengan budaya fandom dan koleksi, bukan sekadar persiapan pesta.
Data dari platform resale Korea Selatan, Bunjang, menunjukkan besarnya perubahan minat tersebut. Pada periode 1–20 Oktober, pencarian Halloween yang hanya menggunakan kata umum seperti “kostum”, “wig”, atau “jubah” mencakup sekitar 10% dari total pencarian terkait Halloween. Sebaliknya, sekitar 90% pencarian menggabungkan nama karakter dengan kata “Halloween”.
Angka itu mengisyaratkan bahwa banyak pengguna tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang akan saya pakai saat Halloween?”
Baca Juga: Shibuya Tak Lagi Ingin Dikenal sebagai Pusat Perayaan Halloween di Jepang, Mengapa?
Karakter yang diminati juga berbeda menurut kelompok usia. Pembeli remaja banyak mencari merchandise Demon Slayer, termasuk acrylic stand yang menampilkan karakter dalam kostum Halloween. Bagi penggemar, barang semacam ini menawarkan cara untuk membawa suasana musiman ke dalam koleksi tanpa harus membeli kostum lengkap.
Sementara itu, Sanrio menjadi favorit lintas generasi dan menempati peringkat pertama di antara konsumen berusia 20-an, 30-an, dan 40-an. Daya tariknya paling menonjol pada pembeli berusia 30-an: sekitar satu dari tiga produk Halloween yang mereka beli merupakan merchandise Sanrio. Tren ini memperlihatkan bahwa karakter yang dikenal sejak kecil tetap punya tempat di kalangan konsumen dewasa.
Produk undian kuji bertema Halloween dari toko serba ada Jepang juga menarik perhatian. Di kalangan pembeli berusia 40-an, Sylvanian Families turut muncul dalam daftar incaran. Pilihannya memang beragam—dari merchandise animasi dan acrylic stand hingga boneka mewah—tetapi benang merahnya sama: karakter yang sudah akrab dikemas dengan tampilan musiman yang spesial.
Barang Halloween Kini Jadi Koleksi Dewasa

Merchandise Halloween tak lagi dipandang semata-mata sebagai mainan anak-anak. Bagi banyak konsumen dewasa, barang-barang tersebut menjadi cara untuk menampilkan selera, nostalgia, sekaligus kedekatan dengan karakter atau karya favorit. Boneka, kartu koleksi, mug, dan aksesori edisi khusus juga dapat melengkapi koleksi yang sudah mereka bangun sepanjang tahun.
Karena versi Halloween dari karakter yang sama biasanya memiliki desain berbeda setiap tahunnya, tahun produksi semakin penting bagi pembeli. Oktober tahun lalu, satu dari lima produk Halloween yang dibeli konsumen berusia 20-an dan 30-an mencantumkan “2025” dalam nama produknya. Untuk menemukan edisi tertentu, pembeli kerap menambahkan tahun rilis ke kata kunci karakter yang dicari.
Status “limited edition” turut memengaruhi minat dan harga. Produk Halloween dengan label “limited” tercatat diperdagangkan dengan harga rata-rata 1,44 kali lebih tinggi daripada produk yang tidak mencantumkan label tersebut. Bagi kolektor, keterbatasan jumlah produk dan kemungkinan barang tidak diproduksi kembali menjadi bagian dari daya tariknya.
Sejumlah listing tahun ini, misalnya, menawarkan atau mencari mug Halloween Starbucks dari 2021 dan 2022. Barang seperti ini menunjukkan bahwa pasar tidak hanya berfokus pada produk terbaru. Edisi lama pun tetap dicari, terutama jika desainnya menarik atau sulit ditemukan.
Contoh lainnya adalah paket kartu Pokémon edisi terbatas Halloween 2024 dari Amerika Utara yang ditawarkan di Bunjang. Produk lintas negara seperti ini memperluas pilihan kolektor sekaligus memperlihatkan bahwa barang Halloween dapat berpindah tangan jauh setelah musim perayaannya berakhir.
Pasar koleksi Halloween juga tidak berhenti setelah tanggal 31 Oktober. Berdasarkan transaksi barang Halloween berharga tinggi selama setahun terakhir, sebagian besar penjualan berlangsung pada Juni hingga September, sebelum musim Halloween mencapai puncaknya. Kolektor tampaknya mulai mencari barang incaran jauh lebih awal untuk mengamankan edisi langka sebelum permintaan meningkat.
Salah satu contohnya adalah boneka edisi Halloween dari kolaborasi Monchhichi dengan merek Amerika Serikat, Mischief. Produk tersebut berpindah tangan pada Juni dengan harga 750.000 won. Transaksi ini menggambarkan bagaimana Halloween telah berkembang dari perayaan satu hari menjadi musim koleksi yang berlangsung sepanjang tahun.
Meski begitu, aktivitas pasar tetap mencapai puncaknya menjelang hari perayaan. Tahun lalu, 15 Oktober menjadi hari tersibuk untuk transaksi barang Halloween—sekitar dua minggu sebelum Halloween—dan aktivitas jual beli berlanjut hingga mendekati tanggal 31 Oktober.
