Shibuya Tak Lagi Ingin Dikenal sebagai Pusat Perayaan Halloween di Jepang, Mengapa?

Suasana Halloween di Jepang.

ASIAWORLDVIEW – Setiap hari, lebih dari 500.000 orang melintasi Shibuya Crossing—berjalan kaki, bersepeda, bermain skateboard, dan menari di persimpangan paling sibuk dan terkenal di dunia. Bagi wisatawan, tempat ini adalah destinasi wajib di Tokyo, sebuah ikon yang fotonya telah menyebar ke seluruh penjuru internet.

Banyak kota di dunia akan rela melakukan apa saja untuk memiliki destinasi “wajib kunjung” dengan daya tarik sebesar itu. Namun, Shibuya—salah satu kawasan paling populer di Tokyo—justru tidak begitu yakin apakah ia ingin terus menjadi magnet bagi kerumunan wisatawan. Di balik gemerlap lampu neon dan viralnya persimpangan itu, ada keresahan yang tumbuh perlahan di kalangan penduduk lokal, terutama ketika Halloween tiba dan kawasan ini berubah menjadi panggung pesta jalanan berskala internasional yang sulit dikendalikan, mengutip CNN, Jumat (30/10/2026).

Shibuya telah lama dianggap sebagai lokasi utama bagi anak muda Jepang untuk merayakan Halloween. Pada awal 2010-an, kawasan ini mulai populer di kalangan keluarga muda yang ingin anak-anak mereka mengenakan kostum lucu dan berkeliling mencari permen. Namun, orang dewasa pun ingin ikut bersenang-senang, dan pada 2017, kawasan ini secara aktif mempromosikan “ShibuHallo” sebagai acara komunitas.

Baca Juga: Demam Halloween di Indonesia, Labu Ikut Berubah Menjadi Magnet Kuliner yang Menggoda

Lokasi Shibuya yang strategis dan popularitasnya di kalangan wisatawan asing—dengan lebih dari 1.000 hotel dan akomodasi terdaftar di sekitarnya—membuat pesta ini semakin besar setiap tahunnya. Apa yang dimulai sebagai perayaan lingkungan yang hangat perlahan berubah menjadi magnet global yang menarik ratusan ribu pengunjung dari dalam dan luar negeri. Sepuluh tahun setelah “ShibuHallo” pertama, banyak warga lokal Shibuya kini ingin mengembalikan keadaan seperti semula, meskipun mereka tahu itu bukan hal yang mudah.

Selama masa jabatan Hasebe sebagai wali kota, perayaan Halloween di Shibuya City berubah dari pertemuan lingkungan menjadi acara internasional. Bersamaan dengan itu, muncul berbagai masalah baru: kencing di tempat umum, keluhan kebisingan, pecahan botol di jalan, dan kerusakan bangunan, di antara banyak lainnya.

Pada tahun 2018, Hasebe menyambut pengunjung ke kawasan tersebut tetapi mendesak mereka untuk menikmati Halloween tanpa menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Meskipun ada beberapa kendala di sepanjang jalan, termasuk sejumlah penangkapan, tampaknya permintaan sopan dari Shibuya City mungkin berhasil menyeimbangkan kecintaan untuk berdandan dan bersenang-senang dengan rasa hormat terhadap tetangga. Namun, pada 29 Oktober 2022, taruhannya menjadi jauh lebih tinggi—sebuah momen yang mengubah cara pandang pemerintah kota dan warga terhadap perayaan ini, dan yang menjadi titik balik mengapa Shibuya kini memilih untuk mengambil sikap yang lebih tegas terhadap Halloween.

Sebagai gantinya, mereka mengusung slogan yang sama sekali berbeda dan berorientasi pada pencegahan gangguan publik: “Goodbye Bad Halloween”. Pergeseran slogan ini bukan sekadar perubahan bahasa, melainkan cerminan dari perubahan sikap yang lebih mendasar. Jika sebelumnya pemerintah kota menyambut pengunjung dengan tangan terbuka, kini mereka secara eksplisit mengirimkan pesan bahwa perilaku buruk tidak akan ditoleransi. Slogan tersebut juga berfungsi sebagai semacam deklarasi bahwa Shibuya tidak lagi ingin identik dengan pesta Halloween yang chaos, melainkan dengan pengalaman yang lebih tertib dan menghormati warga.

2 thoughts on “Shibuya Tak Lagi Ingin Dikenal sebagai Pusat Perayaan Halloween di Jepang, Mengapa?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *