ASIAWORLDVIEW – Chuseok di Korea Selatan bukan sekadar hari libur nasional. Ini menjadi momen pulang, berkumpul, dan merawat ingatan. Setiap tahun, pada tanggal 15 bulan kedelapan kalender lunar, keluarga-keluarga Korea berbondong-bondong kembali ke kampung halaman, menyiapkan meja panjang, dan merayakan panen dengan cara yang telah diwariskan turun-temurun. Di jantung perayaan itu, ada makanan.
Bukan makanan biasa, melainkan sajian yang sarat makna: simbol syukur atas hasil bumi, penghormatan kepada leluhur, dan harapan untuk masa depan. Dari kue beras songpyeon hingga hidangan ritual di meja charye, setiap gigitan membawa cerita.
Jika ada satu makanan yang paling identik dengan Chuseok, itulah songpyeon. Kue beras ini berbentuk bulan sabit, diisi dengan kacang, wijen, atau pasta kacang merah, lalu dikukus di atas daun pinus. Aroma pinus yang meresap memberi cita rasa khas yang tidak ditemukan di kue beras lain. Bentuk bulan sabitnya bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Korea, bulan sabit melambangkan harapan akan masa depan yang lebih baik—bulan yang akan terus tumbuh hingga purnama, seperti rezeki dan kehidupan yang diharapkan semakin penuh.
Baca Juga: Chuseok dan Mid-Autumn Festival 2026: Tradisi Besar Asia Timur Berlangsung Serentak
Songpyeon biasanya dibuat bersama-sama keluarga pada malam sebelum Chuseok. Momen ini sering menjadi ajang berkumpul, bercanda, dan berbagi cerita. Ibu, nenek, anak-anak, dan kerabat yang jarang bertemu duduk melingkar, membentuk adonan, mengisi, dan mencetak kue satu per satu. Ada kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh makanan yang dibeli jadi. Di banyak rumah, songpyeon yang bentuknya tidak sempurna justru dianggap paling istimewa karena dibuat oleh tangan-tangan yang penuh cinta.
Jeon dan Japchae: Aroma Dapur yang Memanggil Pulang

Selain songpyeon, Chuseok juga identik dengan jeon dan japchae. Jeon adalah pancake gurih yang digoreng dengan telur dan tepung, berisi sayuran, ikan, atau daging. Variannya beragam: hobak-jeon dari zucchini, dongtae-jeon dari ikan pollack, dan yukjeon dari daging sapi. Aroma jeon yang digoreng di dapur selalu menjadi penanda bahwa Chuseok telah tiba. Suara minyak yang mendesis, warna keemasan yang muncul, dan aroma gurih yang menyebar ke seluruh rumah menciptakan suasana yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bagi banyak orang Korea, bau jeon adalah bau kampung halaman.
Sementara itu, japchae adalah mi kaca yang ditumis dengan sayuran, jamur, paprika, bayam, dan daging sapi, dibumbui kecap asin serta minyak wijen. Hidangan ini membutuhkan persiapan panjang karena setiap bahan dimasak terpisah sebelum akhirnya dicampur. Prosesnya memang merepotkan, tetapi justru di situlah letak maknanya: kebersamaan dalam menyiapkan hidangan. Di meja Chuseok, japchae bukan hanya lauk, melainkan simbol kerja sama dan kesabaran keluarga.
Chuseok juga merayakan musim gugur melalui bahan-bahan musiman. Toranguk adalah sup berbahan talas yang populer saat musim gugur. Talas, yang dipanen pada periode ini, diolah menjadi sup hangat yang mengenyangkan. Sementara itu, jamur pinus menjadi hidangan langka dan mahal. Jamur ini diolah menjadi sup bening atau tumisan dengan ayam, dan sering dianggap sebagai hidangan istimewa untuk tamu atau keluarga tercinta. Kehadirannya di meja Chuseok menunjukkan bahwa perayaan ini bukan hanya soal tradisi, tetapi juga soal menghargai hasil alam yang terbaik.
Setiap hidangan Chuseok membawa makna simbolik. Songpyeon melambangkan harapan masa depan yang makmur. Bentuknya yang menyerupai bulan sabit mengingatkan bahwa kehidupan terus bertumbuh, seperti bulan yang bergerak menuju purnama. Sebagai perbandingan, mooncake di Tiongkok—yang juga muncul saat Mid-Autumn Festival—melambangkan keutuhan keluarga. Sementara itu, buah-buahan panen menjadi simbol kelimpahan dan rasa syukur. Jeon dan japchae, dengan proses memasaknya yang melibatkan banyak orang, melambangkan kebersamaan keluarga.
Di meja Chuseok, tidak ada makanan yang benar-benar “biasa”. Nasi dan sup adalah fondasi kehidupan. Jeok dan namul adalah penghormatan pada tradisi. Ikan panggang adalah doa untuk rezeki. Buah-buahan adalah syukur atas panen. Dan songpyeon adalah harapan yang dibungkus daun pinus. Semua disajikan bukan untuk memanjakan lidah semata, tetapi untuk merawat ikatan antar generasi.
