Tangsel Darurat Diare? Ratusan Warga Alami Gejala Serupa dalam Waktu Bersamaan

Bakteri E.Colli terlihat dari kaca pembesar.

ASIAWORLDVIEW – Lonjakan kasus diare di Kota Tangerang Selatan menjadi perhatian serius setelah ratusan warga di Perumahan Serpong Lagoon, Kecamatan Setu, dilaporkan mengalami gejala yang hampir seragam dalam waktu berdekatan. Hingga pertengahan Oktober 2026, sedikitnya 146 warga tercatat mengalami diare, muntah, mual, demam, hingga gatal-gatal. Kasus ini tidak hanya menyerang satu kelompok usia tertentu, melainkan menjangkau balita, anak-anak, hingga orang dewasa. Namun, kelompok balita dilaporkan menjadi yang paling rentan terdampak. Dari total kasus yang tercatat, 11 warga harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Dalam hitungan hari, banyak keluarga di kawasan tersebut melaporkan anggota keluarganya mengalami keluhan yang sama, mulai dari demam, mual, muntah hingga diare. Awalnya, para orang tua dan kader kesehatan lingkungan mencurigai adanya kesamaan kasus setelah sejumlah anak mengalami gangguan kesehatan secara bersamaan. Kecurigaan itu kemudian berkembang menjadi pendataan mandiri yang dilakukan warga dan hasilnya menunjukkan jumlah penderita terus bertambah hingga mencapai ratusan orang. Temuan tersebut akhirnya mendorong Dinas Kesehatan serta instansi terkait turun langsung melakukan penyelidikan epidemiologi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Allin Hendalin Mahdaniar, mengungkapkan bahwa laporan terkait peningkatan kasus diare mulai diterima pihaknya pada 7 Oktober 2026, setelah sejumlah warga melaporkan keluhan kesehatan yang muncul hampir bersamaan.

Baca Juga: Viral Bayi Diduga Meninggal usai Diberi Telur Mentah, IDAI Ingatkan Bahaya Salmonella

Gejala yang dialami warga meliputi diare, demam, mual, dan muntah, sehingga menimbulkan kekhawatiran adanya faktor risiko lingkungan yang memicu kejadian tersebut. Berdasarkan hasil pemantauan hingga 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 145 warga mengalami gejala diare.

“Dari hasil pemantauan hingga 12 Oktober 2026, tercatat sebanyak 145 warga mengalami gejala diare, dengan 67 orang telah sembuh, 67 orang menjalani rawat jalan, dan 11 orang mendapatkan perawatan di rumah sakit,” ia mengatakan.

Dari jumlah tersebut, 67 orang telah dinyatakan sembuh, 67 orang masih menjalani rawat jalan, sementara 11 warga lainnya harus mendapatkan perawatan di rumah sakit karena kondisi kesehatannya memerlukan penanganan lebih lanjut. Kelompok yang terdampak tidak hanya orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan balita, dengan balita tercatat sebagai kelompok usia yang paling banyak mengalami gangguan kesehatan.

Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan bersama UPTD Puskesmas Keranggan segera melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengidentifikasi sumber penyebab dan pola penyebaran kasus. Selain melakukan pendataan dan pemantauan kondisi warga, petugas kesehatan juga melaksanakan pemeriksaan kesehatan serta memberikan pengobatan kepada warga yang mengalami keluhan, sebagai upaya menekan jumlah kasus sekaligus mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih serius.

Dugaan sementara mengarah pada kualitas air yang digunakan warga sehari-hari. Sejumlah warga mengaku telah lama mengeluhkan kondisi air yang disalurkan ke rumah-rumah mereka. Air disebut kerap terlihat keruh, berbau, bahkan meninggalkan endapan pada tempat penampungan. Hasil pemeriksaan awal menemukan adanya kandungan bakteri E. coli pada sampel air yang diuji. Bakteri ini dikenal sebagai indikator pencemaran biologis yang dapat memicu berbagai gangguan pencernaan, termasuk diare akut dan muntaber apabila masuk ke dalam tubuh melalui air atau makanan yang terkontaminasi.

Temuan adanya bakteri E. coli memperkuat dugaan bahwa peningkatan kasus diare tidak terjadi secara kebetulan. Apalagi, banyak warga yang mengalami gejala serupa dalam periode yang hampir bersamaan. Hasil uji laboratorium yang disampaikan dalam audiensi antara warga, DPRD, dan instansi terkait menunjukkan air yang digunakan warga tidak memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan untuk konsumsi. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran karena air bersih merupakan kebutuhan dasar yang digunakan setiap hari, mulai dari memasak, mencuci bahan makanan, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *