ASIAWORLDVIEW – Seratus tahun lalu, Halloween 1926 dirayakan dengan cara yang sama sekali berbeda dari yang kita kenal sekarang. Ini merupakan perayaan yang lebih homemade, nakal, dan penuh tradisi komunitas dibandingkan dengan Halloween modern yang serba komersial dan dipenuhi kostum karakter film.
Meskipun banyak tradisi dari era itu masih bertahan, seperti pesta kostum dan dekorasi bertema seram, Halloween telah berubah drastis dalam seratus tahun terakhir. Pada 1926, Beistle Company baru saja memperkenalkan lini dekorasi bertema Halloween pada 1921, dan orang-orang menggantung kucing kertas, tengkorak, dan penyihir di rumah mereka untuk menyambut musim ini—mirip dengan yang kita lakukan hari ini, tetapi dengan sentuhan yang lebih sederhana dan buatan tangan, mengutip History.
Pesta-pesta Halloween diadakan dengan tarian dan musik seperti “Undertaker’s Blues” dari Helen Gross & the Kansas City Five, “Heebie Jeebies” dari Louis Armstrong, dan “The Nightmare” dari The New Orleans Owls. Permainan seperti pumpkin ring toss dan bobbing for apples menjadi favorit, dan konon jika seorang pria berhasil menangkap apel yang telah ditandai oleh seorang wanita, mereka ditakdirkan untuk bersama—salah satu permainan matchmaking pertama yang tercatat.
Baca Juga: Mengapa Halloween Jadi Perayaan Favorit Banyak Orang?
Saat itu, Amerika Serikat sedang berada dalam era Prohibition, orang-orang tetap berpesta dan mengikuti parade. Kondisi ini menjadikan Halloween sebagai momen pembebasan sosial yang jarang terjadi di tengah larangan alkohol.
Hal yang paling mencolok dari Halloween 1926 adalah dominasi “trick” dibandingkan “treat”. Pada masa itu, Halloween lebih identik dengan kenakalan daripada permen. Anak-anak dan remaja yang nakal akan mencuri properti, memukul orang dengan karung tepung, dan meletakkan benda-benda aneh di atap tetangga, semuanya sambil mengenakan topeng Halloween.
Vandalisme ini menjadi begitu meresahkan hingga beberapa kota mempertimbangkan untuk membatalkan acara Halloween sama sekali. Frasa “trick-or-treat” —jauh sebelum tren modern seperti trunk-or-treat—berasal dari sekitar satu abad lalu, ketika anak-anak mendatangi pintu rumah dengan kostum dan menampilkan sebuah “trick” (lagu, puisi, atau lelucon) untuk mendapatkan “treat”.
Berbeda dengan sekarang, anak-anak tidak hanya mengharapkan permen; mereka harus kreatif untuk mengisi tas mereka, menjadikan interaksi sosial ini sebagai pertukaran yang lebih personal dan penuh usaha. Dari sisi kostum, Halloween 1926 terasa jauh lebih homemade: para ibu menjahit kostum badut untuk anak-anak mereka, dan para pesta datang sebagai penyihir, labu, atau karakter seram klasik dengan topeng kertas yang menyeramkan.
Ini adalah era sebelum film horor klasik dirilis, sehingga inspirasi datang dari buku dan legenda lama, bukan dari layar bioskop.
