ASIAWORLDVIEW – Samosir, kawasan yang selama ini dikenal lewat keindahan Danau Toba dan warisan budaya Batak, menjadi tuan rumah bagi Samosir International Choir Competition (SICC) 2026. Kegiatan ini menjadi pertemuan paduan suara dan vokal solo yang berlangsung pada 24–27 September 2026 sebagai bagian dari rangkaian The Caldera Culture Festival (TCCF) 2026.
Acara ini bukan sekadar kompetisi musik, melainkan juga alasan bagi peserta dari berbagai daerah dan negara untuk datang ke Samosir, Sumatera Utara, dan mengalami langsung perpaduan antara musik, budaya, serta lanskap kawasan Danau Toba. SICC 2026 diikuti oleh 33 peserta dengan total 58 penampilan paduan suara dan 70 penampilan vokal solo.
Kategori yang dipertandingkan cukup beragam. Kategorinya mencakup Vocal Solo dan Choir Competition, dengan subkategori Children Vocal Solo, Teenager Vocal Solo, Adult Vocal Solo, Children Choir, Teenager Choir, Mixed Choir, Musica Sacra, serta Folksong.
Baca Juga: Guardian Run Kembali Hadir, Targetkan 10.000 Peserta di Tahun Ini
Kehadiran kategori Folksong memberi ruang bagi peserta untuk membawakan kekayaan musik tradisional dalam format kompetisi paduan suara, sehingga ajang ini tidak hanya menampilkan kemampuan vokal dan kekompakan kelompok, tetapi juga memperkenalkan warna musikal yang berbeda dari berbagai daerah dan negara.
Selama rangkaian acara, ballroom tersebut menjadi panggung bagi peserta dari berbagai kelompok usia. Mulai dari penyanyi solo hingga paduan suara—untuk menampilkan kemampuan vokal, interpretasi karya, dan kerja sama kelompok.
Suasana kompetisi yang berlangsung di kawasan Danau Toba ini memberi pengalaman tersendiri bagi peserta maupun penonton: mereka tidak hanya menyaksikan pertandingan musikal, tetapi juga berada di tengah lanskap Samosir yang khas, dengan udara sejuk dan pemandangan danau yang menjadi latar alami bagi perhelatan budaya tersebut.
Dewan juri yang berasal dari Indonesia dan sejumlah negara. Mereka adalah Marcus Lee dari Singapura, Jurgis Cabulis dari Latvia, Susanna Saw dari Malaysia, serta Prof. Mark Anthony Carpio dari Filipina. Dari Indonesia, jajaran juri terdiri atas Roni Sugiarto, Mangara Simanjuntak, dan Maria Calista. Kehadiran para juri lintas negara ini menegaskan bahwa SICC bukan hanya ajang lokal, melainkan pertemuan yang mempertemukan praktik musikal dari berbagai latar belakang.
Penyambutan para juri turut memperkenalkan unsur budaya Batak melalui pertunjukan tagading dan penyematan ulos—sebuah cara untuk menyambut tamu dengan tradisi lokal yang masih hidup di Samosir. Kehadiran elemen budaya ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang mempertemukan kompetisi musik dengan kekayaan budaya setempat, sehingga peserta dan tamu tidak hanya datang untuk bernyanyi atau menilai, tetapi juga untuk mengenal lebih dekat dengan budaya tempat acara berlangsung.
