Pergeseran Pola Menginap Wisatawan di Bali, Okupansi Hotel Lokal Meroket

Kamar hotel dalam jaringan PRISM.

ASIAWORLDVIEW – Nusa Penida di Bali sudah lama dikenal sebagai destinasi dengan tebing dramatis, air laut biru kehijauan, dan titik-titik ikonik seperti Kelingking Beach atau Diamond Beach. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pola kunjungan ke pulau ini mulai bergeser. Jika dulu banyak wisatawan datang sebagai day-tripper dari Bali daratan kini semakin banyak yang memilih menginap, mengeksplorasi sisi lain pulau, dan menikmati ritme yang lebih lambat.

Pergeseran inilah yang ditangkap oleh PRISM, perusahaan induk OYO, yang terus memperluas jaringan hospitality-nya ke destinasi-destinasi dengan potensi pertumbuhan, termasuk Nusa Penida. Ekspansi ini bukan sekadar menambah jumlah properti, melainkan bagian dari strategi membangun ekosistem akomodasi yang lebih beragam dan terkelola, sejalan dengan perkembangan pariwisata di kawasan tersebut.

Bagi industri hospitality, ini adalah sinyal bahwa ketersediaan akomodasi dengan beragam segmen dan model pengelolaan menjadi semakin penting. Wisatawan tidak datang dengan satu jenis kebutuhan; ada yang mencari hostel sederhana untuk bersosialisasi, ada yang ingin cottage tenang dekat pantai, ada pula yang membutuhkan villa dengan fasilitas lebih lengkap. Keberagaman pilihan ini membantu destinasi menampung pola perjalanan yang lebih panjang tanpa kehilangan karakter lokalnya.

Pawas Sharma, Business Head SEAME & LATAM PRISM, menyatakan, dikutip Asia World View, Minggu (20/9/2026), bahwa ekspansi ke destinasi yang sedang berkembang merupakan bagian dari strategi PRISM untuk membangun jaringan hospitality yang lebih luas di pasar-pasar dengan potensi pertumbuhan.

“Nusa Penida adalah contoh bagaimana perkembangan destinasi dan kebutuhan terhadap akomodasi dapat berjalan beriringan. Dengan portofolio multi-brand dan model Company Serviced, PRISM dapat menyesuaikan penawaran dengan karakteristik masing-masing pasar sekaligus menciptakan lebih banyak peluang bagi pemilik properti,” ia mengatakan.

Baca Juga: Berkunjung ke La Réserve 1785 di Jantung Pererenan, Suaka Romantis Khusus Dewasa di Bali

Model ini memungkinkan pemilik lokal tetap memiliki propertinya, tetapi mendapatkan akses ke sistem yang lebih terstruktur, jangkauan pemasaran yang lebih luas, dan standar operasional yang lebih konsisten. Bagi wisatawan, ini berarti pilihan akomodasi yang lebih mudah dipesan, lebih terprediksi kualitasnya, namun tetap mempertahankan nuansa lokal yang menjadi daya tarik Nusa Penida.

Pemerintah Kabupaten Klungkung melalui Rencana Pengembangan Pariwisata Nusa Penida 2025–2029 menargetkan rata-rata lama tinggal wisatawan mencapai tiga hari pada 2026, sekaligus meningkatkan tingkat okupansi akomodasi menjadi 40,86%. Target ini memberi gambaran bahwa Nusa Penida tidak lagi diproyeksikan sebagai destinasi singkat, melainkan tempat untuk tinggal lebih lama, menjelajah lebih jauh, dan membelanjakan lebih banyak waktu, serta uang di kawasan setempat.

Sementara itu, Abhijeet Singh, Country Head PRISM Indonesia, menambahkan bahwa perkembangan destinasi seperti Nusa Penida merupakan bagian penting dari pertumbuhan pariwisata Indonesia ke depan. Ketika pemerintah daerah terus mengembangkan infrastruktur, tata kelola, dan daya tarik wisata, sektor hospitality juga memiliki peran untuk memastikan ketersediaan akomodasi dapat tumbuh sejalan dengan perkembangan destinasi.

“Ekspansi bukan hanya soal menambah jumlah properti, tetapi tentang bagaimana jaringan hospitality dapat tumbuh bersama destinasi, ini menjadi pendekatan yang menekankan kolaborasi jangka panjang, bukan sekadar kehadiran sesaat.” jelasnya.

Bagi para pelancong, kehadiran beragam akomodasi ini bisa berarti lebih banyak kebebasan untuk merancang perjalanan. Mereka yang ingin mengejar sunrise di Diamond Beach bisa menginap di dekat Sampalan atau Kutampi, sementara yang ingin menyelam di sekitar Menjangan atau menjelajah sisi barat pulau bisa memilih lodge atau cottage yang lebih dekat dengan titik aktivitas. Dengan pengelolaan yang lebih profesional dan akses distribusi yang lebih baik, wisatawan tidak perlu lagi merasa ragu tentang standar kebersihan, layanan, atau kemudahan reservasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *