ASIAWORLDVIEW – Nvidia kembali menjadi pusat perhatian pasar global setelah perusahaan chip asal Amerika Serikat itu mengumumkan rencana pembelian kembali saham (share buyback) senilai USD150 miliar. Langkah yang langsung menempatkannya sebagai salah satu aksi korporasi paling agresif dalam sejarah pasar modal modern. Nilai tersebut menjadi penambahan otorisasi buyback terbesar dalam sejarah perusahaan.
Selain itu, mempertegas keyakinan Nvidia terhadap prospek jangka panjang industri kecerdasan buatan (AI) yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan utamanya. Keputusan ini diumumkan pada Senin, 28 September 2026, dan dengan tambahan USD150 miliar tersebut, total dana yang masih tersedia dalam program pembelian kembali saham Nvidia melonjak menjadi USD235 miliar—sebuah angka yang mencerminkan kekuatan neraca keuangan perusahaan yang luar biasa.
CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan bahwa pertumbuhan perusahaan didorong oleh perubahan besar menuju AI dan accelerated computing. Menurutnya, kemampuan Nvidia menghasilkan kas memberikan perusahaan ruang untuk terus berinvestasi dalam teknologi sekaligus mengembalikan modal kepada pemegang saham.
Baca Juga: IHSG Anjlok 94 Poin ke 6.147, Asing Jual Rp1,13 Triliun
Nvidia merupakan salah satu perusahaan yang paling diuntungkan dari meningkatnya kebutuhan komputasi AI; GPU (Graphics Processing Unit) milik perusahaan digunakan untuk melatih dan menjalankan berbagai model AI yang dikembangkan perusahaan teknologi besar. Pertumbuhan kebutuhan tersebut telah mendorong Nvidia menjadi salah satu perusahaan dengan valuasi terbesar di dunia, dengan saham Nvidia meningkat sekitar 20% sepanjang 2026, meskipun kinerjanya masih tertinggal dari beberapa perusahaan chip pesaing.
Nvidia berencana menggunakan otorisasi tersebut hingga tahun fiskal 2028. Langkah tersebut memberikan ruang yang sangat luas bagi manajemen untuk mengembalikan modal kepada pemegang saham secara bertahap.
Nvidia masih menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari lonjakan investasi AI global. Permintaan terhadap chip dan teknologi komputasi perusahaan teknologi tersebut terus meningkat seiring perusahaan-perusahaan teknologi membangun pusat data dan infrastruktur untuk menjalankan berbagai aplikasi ARtificial INteligence atau AI, dari model bahasa besar hingga sistem otonom.
Buyback senilai US$150 miliar bukan sekadar sinyal kepercayaan diri, tetapi juga pernyataan strategis bahwa Nvidia memiliki arus kas yang cukup kuat untuk mengembalikan modal kepada pemegang saham sekaligus terus berinvestasi dalam riset dan pengembangan teknologi. Sebagai perbandingan, Apple sebelumnya memegang rekor dengan tambahan program buyback senilai USD110 miliar pada 2024. Artinya, Nvidia melampaui rekor tersebut dengan selisih yang cukup signifikan, menegaskan skala ambisi perusahaan ini.
