ASIAWORLDVIEW – Art Jakarta 2026 menjadi panggung bagi karya-karya seni ramah lingkungan yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga membawa pesan tentang sirkularitas, keberlanjutan, dan tanggung jawab terhadap bumi. Salah satu yang mencuri perhatian adalah kehadiran instalasi Taco.
Instalasi ini menjadi sebuah inisiatif yang berawal dari praktik kuliner namun berkembang menjadi visi artistik tentang bagaimana sebuah karya atau produk dapat lahir dari prinsip zero waste—di mana tidak ada yang benar-benar “sampah”. Hal itu arena semua material memiliki potensi untuk digunakan kembali, diolah, atau diubah menjadi sesuatu yang bernilai.
“Proses kreasi tidak harus meninggalkan luka pada lingkungan, melainkan dapat menjadi bagian dari solusi. Taco membawa visi untuk menciptakan karya seni atau produk sirkular yang bisa digunakan,” sebut Anastasia Tirtabudi, CMO PT Tangkas Cipta Optimal (TACO) dalam keterangannya di Jakarta.
Baca Juga: Art Jakarta 2026 Tampilkan Kreasi Seni Kontemporer yang Kian Kaya

Di sini, material tidak hanya dipilih karena keindahannya, tetapi juga karena jejak karbonnya, asal-usulnya, dan potensi daur ulangnya. Tak hanya material, tetapi semua hal bisa digunakan: sisa kain, potongan kayu, bahkan limbah plastik. Ternyata berhasil menciptakan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga bercerita tentang konsumsi, pemborosan, dan harapan.
Seniman yang bekerja dengan pendekatan ini sering kali menempatkan proses sebagai bagian dari karya—mengumpulkan material, memilah, mengolah, dan merakit—sehingga penonton tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga jejak ekologis di baliknya. Karya-karya semacam ini mengundang refleksi tentang bagaimana kita hidup di dunia yang sumber dayanya terbatas, dan bagaimana seni dapat menjadi alat kritik sekaligus solusi terhadap krisis iklim dan budaya konsumsi berlebihan. Dalam konteks Art Jakarta 2026.
Kehadiran karya-karya ini juga memperkaya narasi pameran: mereka berdampingan dengan instalasi digital, lukisan, dan patung, namun membawa bobot etis yang berbeda—sebuah pengingat bahwa seni tidak hanya soal estetika, tetapi juga etika. Pabrik Taco Zero Waste, dengan visinya tentang karya sirkular yang bisa digunakan.
Kreasi seni ii juga menawarkan model bahwa seni dapat hadir dalam bentuk yang fungsional, berkelanjutan, dan tetap memikat—sebuah undangan bagi seniman, kolektor, dan penonton untuk memikirkan kembali hubungan kita dengan material, limbah, dan masa depan planet ini.
“Karya seni ramah lingkungan di Art Jakarta 2026 bukan sekadar tren, ini menjadi gebrakan, sebuah cara baru memahami seni sebagai bagian dari ekosistem yang lebih besar. Keindahan dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan, dan di mana setiap karya adalah pernyataan tentang dunia yang ingin kita tinggalkan untuk generasi mendatang,” tutupnya.
