Kabar Bencana Alam Menjadi Beban Jiwa: Panduan Menjaga Kesehatan Mental

Ilustrasi seorang perempuan stres setelah membaca berita negatif.

ASIAWORLDVIEW – Kabar mengenai bencana alam di Indonesia memang sering menimbulkan rasa cemas dan stres bagi masyarakat, terutama karena dampaknya yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Informasi tentang gempa bumi, banjir, tanah longsor, atau letusan gunung berapi biasanya tersebar cepat melalui media dan media sosial, sehingga menambah intensitas kekhawatiran publik. Dalam hitungan menit, linimasa dipenuhi foto, video, dan narasi yang menggambarkan kerusakan, korban, serta ketidakpastian kondisi di lokasi terdampak. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar berita; ini adalah pemicu respons stres yang nyata.

Ketidakpastian mengenai keselamatan keluarga, kondisi tempat tinggal, hingga akses terhadap kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dan tempat berlindung membuat beban psikologis semakin berat. Tubuh pun bereaksi: jantung berdebar, otot menegang, tidur terganggu, nafsu makan berubah, dan pikiran dipenuhi skenario terburuk. Dalam dunia kesehatan mental, kondisi ini dikenal sebagai stres akut akibat bencana, yang jika dibiarkan dapat berkembang menjadi kecemasan berkepanjangan, depresi, bahkan gangguan stres pascatrauma.

Hal yang membuat situasi semakin kompleks adalah arus informasi yang tidak selalu akurat. Narasi yang terus-menerus muncul tentang kerentanan infrastruktur, lambatnya penanganan darurat, atau prediksi bencana susulan dapat memperkuat persepsi bahwa situasi benar-benar tidak terkendali. Media sosial, meskipun bermanfaat untuk menyebarkan bantuan dan solidaritas, juga menjadi ruang subur bagi hoaks, spekulasi, dan konten yang memperkuat rasa takut.

Baca Juga: Waspada Dampak Kesehatan Abu Vulkanik: Ancaman yang Tak Berakhir Saat Erupsi Reda

Fenomena doomscrolling—terus-menerus menggulir berita buruk tanpa henti—membuat otak terjebak dalam mode waspada terus-menerus. Akibatnya, stres muncul bukan hanya dari ancaman fisik bencana, tetapi juga dari rasa tidak berdaya menghadapi kondisi yang sulit diprediksi. Bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyintas bencana sebelumnya, dampak psikologisnya bisa lebih dalam. Anak-anak mungkin belum mampu mengartikulasikan rasa takut, tetapi mereka bisa menunjukkan perubahan perilaku: mudah marah, sulit tidur, atau kembali mengompol. Lansia bisa mengalami kebingungan, kehilangan nafsu makan, atau memperburuk penyakit kronis. Karena itu, pendekatan kesehatan mental dalam situasi bencana harus bersifat holistik, menyentuh aspek biologis, psikologis, sosial, dan spiritual, mengutip situs resmi Kementerian Kesehatan.

Langkah pertama yang paling mendasar adalah kembali kepada informasi resmi. Masyarakat dianjurkan untuk mengandalkan sumber terpercaya seperti BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), serta kanal resmi pemerintah daerah. Informasi dari sumber-sumber ini biasanya terverifikasi, berbasis data, dan disampaikan dengan bahasa yang lebih menenangkan karena menyertakan langkah mitigasi yang bisa dilakukan. Sebaliknya, berita dari akun anonim, pesan berantai tanpa sumber jelas, atau konten yang sengaja membangkitkan emosi negatif sebaiknya tidak langsung dipercaya, apalagi disebarkan.

Membatasi paparan berita berlebihan juga menjadi kunci. Tidak perlu memeriksa linimasa setiap lima menit. Tetapkan waktu tertentu untuk mencari informasi, misalnya pagi dan sore, lalu tutup aplikasi. Matikan notifikasi yang tidak perlu. Beri ruang bagi otak untuk beristirahat dari ancaman yang terus-menerus. Ini bukan bentuk denial, melainkan strategi menjaga kapasitas mental agar tetap bisa berpikir jernih dan bertindak tepat jika memang diperlukan.

Selain mengatur konsumsi informasi, menjaga kesehatan mental juga membutuhkan tindakan aktif. Tidur yang cukup, makan bergizi, bergerak ringan, dan menjaga hidrasi adalah fondasi biologis yang sering dilupakan saat panik. Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, meditasi singkat, atau mendengarkan musik yang menenangkan dapat membantu menurunkan kadar hormon stres. Menulis jurnal juga bisa menjadi katarsis: menuangkan kekhawatiran ke atas kertas membantu otak memproses emosi dan mengurangi rasa kacau.

Tak kalah penting adalah memperkuat dukungan sosial di lingkungan sekitar. Berbicara dengan keluarga, tetangga, atau teman tentang rasa takut dapat mengurangi beban psikologis. Manusia adalah makhluk sosial; ketika menghadapi ancaman, kebersamaan memberikan rasa aman. Gotong royong, saling mengingatkan, dan berbagi informasi yang benar adalah bentuk terapi komunitas yang sangat efektif. Bagi orang tua, penting untuk menemani anak-anak dan menjelaskan situasi dengan bahasa sederhana, jujur, tetapi tidak menakutkan. Libatkan mereka dalam kegiatan sederhana seperti menyiapkan tas darurat atau menggambar, agar mereka merasa memiliki kendali.

Jika gejala stres tidak kunjung reda—misalnya sulit tidur berkepanjangan, panik berulang, kehilangan minat pada aktivitas, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri—jangan ragu mencari bantuan profesional. Psikolog, psikiater, atau layanan konseling darurat seperti yang disediakan oleh Kementerian Kesehatan dan lembaga sosial dapat membantu. Di era digital, layanan telekonseling juga semakin mudah diakses.

Ingatlah bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, terutama dalam situasi krisis. Pemerintah, media, dan komunitas juga memiliki peran: menyajikan berita yang tidak sensasional, memberikan edukasi kebencanaan yang menenangkan, serta memastikan akses layanan psikososial bagi penyintas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *