ASIAWORLDVIEW – Isu popok dan pembalut berkelanjutan tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi limbah, tetapi juga menyangkut kesehatan dan kenyamanan pengguna, khususnya bayi. Salah satu hal yang jarang dibahas adalah daya tampung popok sekali pakai yang sebenarnya terbatas. Popok konvensional umumnya hanya mampu menampung sekitar dua kali buang air kecil sebelum kapasitas serapnya menurun dan harus segera diganti.
Celia Siura, Founder dan CEO Bumbi, menjelaskan dalam sesi media interview CoCreate Pitch 2026, Selasa (13/10/2026), setelah terkena cairan, kemampuan menyerap popok tidak lagi optimal sehingga penggunaan yang terlalu lama dapat membuat kulit bayi lembap, tidak nyaman. Selain itu, lebih rentan mengalami iritasi.
“Kondisi ini menunjukkan pentingnya orang tua memahami batas penggunaan popok agar kesehatan dan kenyamanan bayi tetap terjaga, sekaligus mempertimbangkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam jangka panjang,” ia mengatakan.
Popok konvensional umumnya hanya mampu menampung sekitar dua kali buang air kecil sebelum kapasitas serapnya menurun dan harus segera diganti. Setelah terkena cairan, kemampuan menyerap popok tidak lagi optimal sehingga penggunaan yang terlalu lama dapat membuat kulit bayi lembap, tidak nyaman, dan lebih rentan mengalami iritasi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya orang tua memahami batas penggunaan popok agar kesehatan dan kenyamanan bayi tetap terjaga, sekaligus mempertimbangkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan efisien dalam jangka panjang.
Ini berarti, secara praktis, popok sekali pakai memiliki masa pakai yang sangat pendek, bukan karena bahannya rusak, tetapi karena kapasitasnya sudah terlampaui. Popok yang lebih ramah lingkungan justru memiliki keunggulan pada aspek cepat kering dan mudah dicuci, karena bahannya yang cepat menyerap dan tidak mudah rusak saat dibersihkan. Inilah yang kemudian menjadi pembeda antara popok sekali pakai dan popok yang dapat digunakan berulang.
Baca Juga: Ketika Popok Menjadi Aksi Nyata Menjaga Lingkungan untuk Masa Depan Anak-anak
Namun, persoalan sesungguhnya terletak pada durasi pemakaian. Popok sekali pakai sebenarnya hanya boleh dipakai maksimal empat jam. Pemakaian popok yang terlalu lama, apalagi hingga tujuh jam, dapat memicu infeksi saluran kencing, ruam popok, dan berbagai masalah kulit lainnya.
Sayangnya, kenyataan di lapangan sering kali berbeda. Banyak ibu, karena alasan hemat atau keterbatasan waktu, menunda penggantian popok hingga jauh melewati batas empat jam. Akibatnya, bayi harus menanggung ketidaknyamanan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
“Bagaimana rasanya jika seorang ibu memakai pembalut selama tujuh jam? Jawabannya pasti gatal dan tidak nyaman. Nah, bayi yang memakai popok terlalu lama juga merasakan hal yang sama, hanya saja ia tidak bisa mengomel atau mengeluh seperti orang dewasa. Yang bisa ia lakukan hanyalah menangis, rewel, dan pada akhirnya jatuh sakit,” ia menambahkan.
Di sinilah pentingnya pengetahuan orang tua tentang durasi pemakaian popok yang aman. Hal itu karena kesalahan kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berdampak serius pada kesehatan anak.
Dari sudut pandang sustainability, persoalan ini menjadi semakin kompleks. Popok sekali pakai memang praktis, tetapi limbahnya menumpuk dan sulit terurai. Sementara itu, popok yang dapat digunakan ulang atau popok kain menawarkan solusi yang lebih ramah lingkungan, meskipun menuntut komitmen lebih besar dari orang tua dalam hal pencucian dan perawatan.
Popok yang lebih berkelanjutan memiliki daya tahan yang lebih baik karena bahannya mudah dicuci dan cepat kering. Artinya, dengan perawatan yang tepat, popok jenis ini bisa dipakai berulang kali dalam jangka waktu yang jauh lebih lama dibandingkan popok sekali pakai.
Bayangkan, jika satu bayi menggunakan popok sekali pakai rata-rata enam hingga delapan buah per hari, maka dalam setahun bisa mencapai lebih dari dua ribu popok per bayi. Angka ini belum termasuk popok yang dibuang sembarangan dan akhirnya mencemari sungai atau laut. Dengan beralih ke popok yang dapat digunakan ulang, volume sampah popok bisa ditekan secara signifikan, dan dampak positifnya terhadap lingkungan akan terasa dalam jangka panjang.
