ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di sesi pagi, tertahan di sekitar level psikologis 5.000 pada Senin (2/11/2026) setelah dibuka turun dan sempat menyentuh level terendah 4.981. Pergerakan ini mencerminkan fase konsolidasi yang rapuh: ada upaya teknikal untuk bertahan, tetapi tekanan jual masih dominan di tengah sikap investor yang menunggu rilis data ekonomi domestik.
Selain itu, mencermati implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait perhitungan indeks. Bagi pelaku pasar, dinamika ini menjadi cermin bahwa IHSG belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang koreksi tajam yang terjadi sepanjang Oktober 2026.
Data BEI menunjukkan indeks turun 17,51 poin atau 0,35 persen ke level 5.039,54 pada pembukaan. Tekanan jual berlanjut setelah pembukaan; pada pukul 09.01 WIB, IHSG berada di level 5.016,91, melemah 40,14 poin atau 0,79 persen . Bahkan, data dari RTI yang dikutip detikFinance mencatat IHSG sempat menyentuh level terendah di 4.981 pada sesi pagi, sebelum akhirnya bergerak di kisaran 5.014 . Memasuki pukul 10.12 WIB, IHSG berhasil memangkas sebagian pelemahannya dan bergerak menguat tipis 4,08 poin atau 0,08 persen ke posisi 5.061,13. Hingga pukul 10.23 WIB, indeks tercatat naik 14,96 poin atau 0,30 persen ke level 5.072,01, dengan rentang perdagangan harian antara 4.981,51 hingga 5.082,55 . Fluktuasi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan jual masih ada, ada upaya dari sebagian pelaku pasar untuk memanfaatkan level rendah sebagai titik masuk, setidaknya untuk jangka pendek.
Baca Juga: Saham Tokenisasi Ditolak Puluhan Perusahaan: Microsoft hingga McDonald
Salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan IHSG pada hari ini adalah implementasi kebijakan BEI yang mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG, efektif mulai 2 November 2026 . Sebanyak 81 hingga 82 saham HSC dikeluarkan dari perhitungan indeks, dengan bobot saham-saham tersebut sebelumnya mencapai sekitar 18 persen terhadap IHSG, sementara kapitalisasi pasarnya mencakup sekitar 30 persen dari total kapitalisasi pasar BEI . BEI memastikan bahwa level awal IHSG tidak berubah, karena bobot saham yang dikeluarkan didistribusikan kembali ke saham-saham lain yang masih menjadi konstituen indeks.
Namun pasar tetap mencermati dampak psikologis dan teknikal dari perubahan metodologi ini, terutama karena beberapa saham yang dikeluarkan—seperti BRPT dan saham-saham terafiliasi konglomerat Prajogo Pangestu—langsung mengalami tekanan jual yang signifikan.
Selain itu, pelaku pasar juga bersikap wait and see terhadap rilis data ekonomi domestik yang dijadwalkan pada hari yang sama. Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data inflasi Oktober 2026 dan neraca perdagangan, sementara S&P Global merilis data PMI Manufaktur Indonesia . Data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 dan cadangan devisa juga menjadi sorotan pada pekan ini.
Dari sisi global, sentimen yang masuk ke pasar domestik cenderung negatif. Bursa Wall Street ditutup melemah pada Jumat pekan lalu, dengan Nasdaq Composite anjlok 2,86 persen, S&P 500 turun 1,82 persen, dan Dow Jones melemah 1,09 persen. Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual pada saham-saham teknologi menyusul kinerja dan proyeksi emiten yang mengecewakan, serta kekhawatiran terhadap keberlanjutan pertumbuhan bisnis yang terkait kecerdasan buatan (AI). Sentimen negatif dari Wall Street ini turut membebani bursa regional Asia, termasuk IHSG.
Selain itu, pasar juga mencermati pemilihan tengah semester (midterm elections) di Amerika Serikat yang akan digelar pada pekan ini. Jajak pendapat mengindikasikan bahwa Partai Republik berisiko kehilangan mayoritas di DPR AS serta kendali atas Senat, yang berpotensi menghambat agenda Presiden Donald Trump. Ketidakpastian politik di AS ini menambah lapisan risiko bagi investor global, termasuk di pasar emerging market seperti Indonesia.
Di balik pergerakan harian, IHSG masih menghadapi tekanan struktural yang belum terselesaikan. Mirae Asset Sekuritas mencatat nilai net sell asing mencapai Rp4,2 triliun sepanjang pekan lalu, dan sejak awal tahun telah mencapai Rp127 triliun. Pelemahan rupiah juga masih menjadi beban; pada penutupan Jumat (30/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah ke level Rp18.147 per dolar AS . Kombinasi antara arus modal keluar dan pelemahan nilai tukar menciptakan lingkaran umpan balik yang menekan harga aset domestik, termasuk saham.

