ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin diperdagangkan di sekitar level USD83.000 pada Rabu (14/10/2026), bergerak dalam rentang konsolidasi setelah sebelumnya sempat jatuh ke sekitar USD81.000 dan bangkit kembali mendekati USD84.000. Data Coinmarketcap per pukul 07:08 WIB mencatat harga Bitcoin berada di level USD83.165,40, atau setara dengan Rp1,49 miliar.
Pergerakan ini menunjukkan pasar sedang mencerna berbagai sentimen yang saling bertentangan, terutama menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang menjadi salah satu penentu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan pergerakan aset kripto secara keseluruhan.
Dari sisi teknikal, Bitcoin menghadapi resistance yang cukup kuat di zona USD83.600 hingga USD84.000. Setelah sempat menyentuh level terendah di sekitar USD81.000, Bitcoin berhasil melakukan rebound yang solid, namun momentumnya kemudian melemah dan tertahan di bawah zona resistance tersebut .
Volume perdagangan di buku order bursa bertindak sebagai penghalang di atas US$84.000, sehingga kenaikan harga menjadi terbatas. Saat ini, perhatian pasar tertuju pada apakah Bitcoin mampu menembus zona USD83.600–USD84.000 dengan volume yang meningkat, serta seberapa kuat support dapat bertahan.
Baca Juga: Saham Coinbase dan Kripto Bersiap Hadapi Data Inflasi AS
Sentimen pasar secara keseluruhan masih dibayangi oleh ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat. Investor menantikan data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis pada 14 Oktober, yang diperkirakan menjadi salah satu faktor penentu arah suku bunga The Fed. Analis memperkirakan dua skenario utama: jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, Bitcoin berisiko turun di bawah USD80.000 akibat penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari ekspektasi, harga Bitcoin berpeluang menguat menuju US$86.000 atau lebih tinggi.
Selain CPI, pasar juga akan mencermati data Producer Price Index (PPI) pada 15 Oktober serta pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada 16 Oktober. Di sisi on-chain, data menunjukkan bahwa pemegang jangka panjang masih menikmati keuntungan yang substansial. Basis biaya rata-rata pemegang jangka panjang berada di sekitar USD48.600, yang berarti mereka masih memiliki unrealized gain sekitar 72%.
Indikator LTH SOPR telah kembali di atas rata-rata tahunannya di level 1,10, dengan rata-rata mingguan dan bulanan masing-masing di 1,25 dan 1,16, menandakan bahwa pemegang jangka panjang masih merealisasikan keuntungan, meskipun data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan adanya distribusi yang berkelanjutan . Sementara itu, jumlah Bitcoin yang tersimpan di bursa terus mengalami penurunan.
Sejak Februari, kepemilikan Bitcoin di bursa turun dari 2,8 juta keping menjadi 2,67 juta keping, yang mengindikasikan berkurangnya pasokan yang siap dijual di pasar. Jika permintaan kembali menguat, kondisi pasokan yang mengetat ini berpotensi memberikan dukungan bagi pergerakan harga Bitcoin dalam jangka menengah hingga panjang.
Dari sisi akumulasi institusional, beberapa entitas terus menambah eksposur mereka terhadap Bitcoin. Strive, misalnya, meluncurkan SATS, sebuah saham preferen perpetua dengan imbal hasil dividen tahunan 15%, dan berencana mengumpulkan USD500 juta untuk keperluan yang mencakup pembelian Bitcoin tambahan. Perusahaan tersebut telah mengakuisisi 3.311 BTC lagi pada minggu sebelumnya, meningkatkan total kepemilikannya menjadi 32.773 BTC, naik signifikan dari kurang dari 20.000 BTC tiga bulan lalu.

