ASIAWORLDVIEW – Raksasa teknologi Google memproyeksikan potensi ekonomi yang sangat besar dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) generatif di Indonesia. Berdasarkan AI Economic Opportunity Report 2026 yang disusun oleh Public First dan dipaparkan Google di Jakarta. Laporan tersebut menemukan adopsi penuh AI generatif di sektor ekonomi kreatif dan media diperkirakan dapat membuka nilai ekonomi hingga Rp66 triliun per tahun.
“Temuan terbaru dari laporan AI Economic Opportunity Report menunjukkan bahwa adopsi AI generatif di sektor media saja sudah punya potensi menghasilkan Rp66 triliun per tahun,” ujar Country Director Google Indonesia, Veronica Utami, dikutip Jumat (24/7/2026).
Laporan tersebut memaparkan bagaimana AI generatif dapat menjadi katalis produktivitas sekaligus pembuka peluang ekonomi baru. Dari angka Rp66 triliun tersebut, sekitar Rp48 triliun diperkirakan berasal dari peningkatan produktivitas pekerjaan kreatif sehari-hari. Misalnya, konten media sosial, desain, dan produksi konten lainnya—yang menjadi lebih cepat, lebih baik, dan menjangkau audiens lebih luas.
Baca Juga: Google Cloud: Empati, Bahasa Pemrograman Manusia yang Tak Tergantikan oleh AI
Sementara itu, sekitar Rp12 triliun lainnya berasal dari pertumbuhan profesi yang terkait langsung dengan pemanfaatan AI itu sendiri. Salah satu temuan paling menarik adalah potensi efisiensi waktu yang luar biasa. Pekerja di sektor kreatif diperkirakan dapat menghemat rata-rata 390 jam kerja per tahun, atau setara dengan sekitar 50 hari kerja, melalui penggunaan AI generatif. Waktu yang dihemat ini dapat dialihkan untuk aktivitas yang lebih bernilai, seperti pengembangan ide, penyusunan cerita, dan proses kreatif lainnya.
Selain efisiensi internal, AI juga membuka jalan bagi ekspansi pasar global. Fitur lokalisasi berbasis AI seperti penerjemahan otomatis, pembuatan subtitle, dan sulih suara (dubbing) memungkinkan kreator Indonesia menjangkau audiens internasional dengan lebih cepat dan mudah. Google memproyeksikan pemanfaatan teknologi ini dapat mendorong nilai ekspor industri kreatif Indonesia hingga Rp6,7 triliun per tahun.
“Seperti yang dibilang sebelumnya, ini bisa menjadi bidak Indonesia menjadi lebih internasional. Secara umum, laporan ini menunjukkan potensi kreativitas yang sangat besar,” ujar Adrian Suharto, Director Asia Pacific Robertsbridge (Public First).
Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa tingkat adopsi AI di Indonesia tergolong sangat tinggi. Sebanyak 63 persen pengguna AI di Indonesia berada pada kategori pengguna tingkat menengah hingga mahir—angka yang melampaui Amerika Serikat yang hanya mencapai 46 persen.
Ekosistem kreatif digital Indonesia juga menunjukkan fundamental yang kuat. Sepanjang 2025, ekosistem kreator di YouTube berkontribusi lebih dari Rp8,4 triliun terhadap PDB Indonesia dan mendukung lebih dari 190.000 pekerjaan penuh waktu. Sebanyak 81 persen kreator Indonesia memanfaatkan YouTube untuk membagikan budaya, musik, dan karya mereka kepada audiens global.
