ASIAWORLDVIEW – Serangan siber terhadap industri kripto mengalami peningkatan. Sebelumnya, Binance yang “dihajar” hingga terpaksa membekukan dana. Kini. laporan terbaru terhadap Chainalysis menyoroti meningkatnya kegiatan hacker tersebut, terutama ketika pelaku memanfaatkan teknik agentic Artificial Intelligence atau AI. Perusahaan analitik blockchain tersebut mengonfirmasi bahwa pihak tak berwenang berhasil mengakses sebagian sistem dan perangkat internalnya.
Data pelanggan yang terpapar mencakup nama lengkap, alamat email, ID pengguna, serta label jabatan atau peran dalam organisasi. Chainalysis menyatakan penyelidikan sejauh ini belum menemukan bukti bahwa pelaku mengakses konten investigasi, kredensial autentikasi, atau token sesi.
Perusahaan kini bekerja sama dengan pakar keamanan siber untuk menyelidiki aktivitas tersebut, menambal kerentanan, memperkuat sistem, dan memberi tahu pelanggan terdampak. Meski demikian, belum ada rincian mengenai waktu serangan, identitas peretas, maupun metode teknis yang digunakan, mengutip Coindesk, Sabtu (31/10/2026).
Baca Juga: Binance Hadapi Dugaan Peretasan Terbesar di Industri Kripto, Sekitar US$3 Miliar Dibekukan
Istilah agentic AI merujuk pada sistem kecerdasan buatan yang dapat menjalankan serangkaian langkah secara relatif mandiri untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks serangan siber, kemampuan tersebut berpotensi membantu pelaku menemukan celah keamanan, menyusun tindakan berurutan, serta menyesuaikan pendekatan berdasarkan respons sistem. Namun, Chainalysis belum mengungkap bukti yang menjelaskan bagaimana teknologi itu digunakan dalam insiden ini, sehingga klaim mengenai kemampuan atau teknik spesifik pelaku perlu dipahami sebagai konteks umum, bukan rincian yang telah dipastikan.
Kebocoran data identitas dan informasi organisasi tetap dapat menimbulkan risiko lanjutan, seperti serangan rekayasa sosial, upaya phishing yang lebih meyakinkan, atau penyamaran sebagai pihak tepercaya. Karena itu, pelanggan sebaiknya berhati-hati terhadap pesan yang meminta kata sandi, kode autentikasi, atau tindakan mendesak, dan memeriksa keaslian komunikasi melalui kanal resmi.
Chainalysis juga menegaskan bahwa insiden tersebut tidak berkaitan dengan peretasan Binance yang disebut dalam laporan sebagai pencurian kripto senilai US$6,3 miliar. Perusahaan mengaitkan serangan terhadap Binance dengan kelompok TraderTraitor, yang disebut sebagai unit peretas terkait Korea Utara dan bagian dari Lazarus Group. Meski dua insiden itu tidak memiliki hubungan yang dikonfirmasi, rangkaian kasus ini menegaskan bahwa risiko keamanan dapat berdampak pada perusahaan analitik, bursa, maupun penyedia layanan lain di ekosistem aset digital. Bagi industri kripto, konsekuensinya tidak hanya berupa potensi kehilangan dana, tetapi juga gangguan operasional, biaya investigasi dan pemulihan, tekanan terhadap kepercayaan pelanggan, serta risiko kepatuhan dan reputasi.
Data yang dikutip Chainalysis menunjukkan besarnya ancaman peretasan yang diduga terkait Korea Utara. Hingga tahun berjalan 2026, kelompok-kelompok tersebut dikatakan bertanggung jawab atas hampir 89% kerugian peretasan kripto yang dilaporkan. Sebagai perbandingan, angkanya disebut sebesar 15% pada 2021. Rata-rata kerugian per insiden yang diduga terkait DPRK juga meningkat dari US$50,65 juta pada 2021 menjadi US$185,65 juta pada 2026 hingga saat ini—sekitar 3,7 kali lebih besar. Secara kumulatif, dari 2021 hingga 29 Oktober 2026, kerugian yang dikaitkan dengan peretasan tersebut mencapai US$13,24 miliar dari total US$22,34 miliar, atau sekitar 59%. Angka-angka ini menggambarkan tren yang mengkhawatirkan, tetapi tetap perlu dibaca sesuai cakupan laporan, metode penghitungan, dan status atribusi yang digunakan.
Bagi pelaku usaha aset digital, perkembangan tersebut memperkuat alasan untuk menjadikan keamanan siber sebagai bagian inti dari strategi bisnis, bukan sekadar urusan teknis. Langkah penting mencakup pengujian keamanan berkala, pembatasan akses berdasarkan kebutuhan kerja, pemantauan aktivitas akun dan perangkat internal, perlindungan data pelanggan, serta rencana respons insiden yang diuji secara rutin.
