ASIAWORLDVIEW – Para pelaku pasar, baik di ranah aset kripto maupun instrumen keuangan konvensional global, saat ini memasang mata dan telinga mereka sangat tajam pada setiap rilis data inflasi. Hal ini ditegaskan langsung oleh pimpinan Indodax, bursa kripto terbesar di Indonesia, yang menyebut bahwa inflasi telah menjelma menjadi kompas utama dalam membaca denyut nadi perekonomian dunia.
“Di tengah ketidakpastian makroekonomi, angka inflasi tidak lagi sekadar statistik bulanan, melainkan sebuah sinyal kritis yang mampu menggerakkan miliaran dolar lintas pasar dalam hitungan menit. Menurutnya, data ini memiliki daya tafsir ganda: di satu sisi, ia mencerminkan secara langsung daya beli riil masyarakat dan kesehatan konsumsi domestik, yang merupakan kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB) bagi sebagian besar negara maju dan berkembang,” sebut CEO Indodax William Sutanto dalam keterangannya, di Jakarta.
Namun di sisi lain, dan ini yang lebih krusial, tambahnya, inflasi menjadi fondasi tunggal bagi bank sentral. Misalnya, Federal Reserve (The Fed) atau Bank Indonesia (BI), dalam merumuskan kebijakan moneter, terutama dalam menentukan arah suku bunga acuan.
“Hubungan kausalitas antara inflasi dan suku bunga ini bersifat simbiosis namun antagonis. Ketika data inflasi menunjukkan angka di atas target (misalnya, di atas 2% untuk Fed atau 2,5% plus minus 1% untuk BI), pasar serta merta mengerek ekspektasi akan kebijakan hawkish—di mana bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk mendinginkan perekonomian. Kenaikan suku bunga ini secara otomatis akan meningkatkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah, yang pada gilirannya menciptakan efek tarik-menarik likuiditas global,” ia menambahkan.
Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi 3%, Inflasi Global Tekan Pasar Kripto
Dana institusional yang sebelumnya berseliweran di pasar aset berisiko (risk-on assets), seperti saham teknologi dan kripto, akan cenderung berpindah ke instrumen pendapatan tetap (fixed income) yang dianggap lebih aman dan kini memberikan imbal hasil kompetitif. Sebaliknya, jika inflasi mereda atau berada di bawah ekspektasi, sentimen dovish pun muncul, membuka peluang penurunan suku bunga atau setidaknya penundaan kenaikan, yang kemudian menyuntikkan likuiditas kembali ke pasar ekuitas dan kripto.
“Kondisi ini menjelaskan mengapa pasar kripto, yang selama beberapa tahun terakhir dianggap sebagai alternative hedge atau safe haven, justru saat ini menunjukkan korelasi yang semakin erat dengan aset berisiko tradisional seperti saham teknologi,” jelasnya.
Ia juga menggarisbawahi bahwa volatilitas Bitcoin dan aset kripto lainnya kini sangat dipengaruhi oleh perubahan sekecil apa pun pada proyeksi inflasi. Pelaku pasar tidak hanya melihat data headline, tetapi juga merogoh lebih dalam ke komponen inti (core inflation) dan inflasi sektor jasa (supercore) untuk mengukur seberapa persisten tekanan harga tersebut.
Di pasar domestik, perhatian terhadap inflasi juga sama kritisnya bagi pelaku kripto Indonesia, mengingat nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS sangat rentan terhadap pergerakan suku bunga global. Jika The Fed menaikkan suku bunga agresif akibat inflasi AS yang membandel, maka dolar akan menguat, memberikan tekanan pada Rupiah, yang pada gilirannya mempengaruhi valuasi aset kripto dalam denominasi lokal.
“Membaca arah ekonomi tidak cukup hanya dengan melihat grafik harga aset semata; memantau napas inflasi dan respon bank sentral adalah sebuah keharusan absolut bagi setiap pelaku pasar yang ingin bertahan dan mengambil keputusan investasi yang rasional serta terukur di tengah ketidakpastian ekonomi global,” pungkasnya.
