ASIAWORLDVIEW – Di balik gemerlapnya motif dan keindahan warna, selembar batik menyimpan napas panjang peradaban—sebuah warisan yang tidak cukup hanya dipamerkan di balik kaca museum atau dikenakan sebagai busana. Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, melalui Museum Tekstil Jakarta, menyadari betul bahwa melestarikan batik bukanlah soal menyimpan kain, melainkan memastikan pengetahuan, keterampilan, dan nilai budaya di baliknya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kepala Unit Pengelola Museum Seni Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Sri Kusumawati, dalam acara “Bincang Batik” di Museum Tekstil Jakarta, Selasa (27/10/2026), menyampaikan pesan yang menyentuh mengenai perawatan watsra nusantara tersebut. Menurutnya, batik adalah identitas, sejarah, pengetahuan, dan cerminan nilai-nilai masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi—bukan sekadar komoditas estetis.
“Jangan sampai kita masih memiliki kain batiknya, tapi kehilangan orang-orang yang mampu membuatnya. Jangan sampai kita mengenal keindahan motifnya, tetapi tidak lagi memahami cerita dan filosofi yang terkandung di dalamnya,” ia mengatakan.
Baca Juga: Keindahan Batik Nusantara: Warisan Budaya yang Tak Pernah Habis
Sri mencontohkan bagaimana pertemuan berbagai budaya melahirkan kekhasan motif, warna, dan teknik pembuatan Batik Kudus. Sebagaimana banyak warisan budaya tradisional lainnya, Batik Kudus juga mengalami berbagai tantangan, terutama dalam hal keberlanjutan keterampilan pembatik dan regenerasi pengrajin. Di sinilah peran museum menjadi krusial: bukan hanya sebagai penjaga koleksi, tetapi sebagai ruang belajar, dialog, dan pewarisan pengetahuan.
Dalam upaya mendukung pelestarian batik, Dinas Kebudayaan DKI Jakarta mengadakan pameran bertajuk “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” dari 2 Oktober hingga 2 November 2026 di Museum Tekstil. Pameran yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober itu menampilkan koleksi awal museum, karya-karya dari maestro batik, serta sumbangan tokoh-tokoh bangsa kepada Museum Tekstil Jakarta. Museum Tekstil Jakarta dalam pameran tersebut menampilkan kembali keindahan batik Kudus, Demak, dan Banyumas agar bisa menjadi inspirasi bagi kaum muda.
“Kini sudah tidak diproduksi, tapi kalau melihat pernah ada batik-batik yang indah ini, ini membangkitkan semangat generasi muda untuk mempelajari dan menciptakan lagi motif-motif batik dari ketiga daerah yang tidak kalah indahnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia,” ia menambahkan.
Sri menegaskan bahwa Museum Tekstil Jakarta tidak hanya menjaga koleksi warisan budaya, tetapi juga menghadirkan ruang bagi para perajin, akademisi, komunitas, generasi muda, dan masyarakat untuk bertemu serta saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang Batik Kudus, tetapi juga membangkitkan kepedulian dan mendorong lahirnya generasi penerus yang mencintai serta bersedia mempelajari keterampilan batik,” pungkasnya.

