ASIAWORLVIEW – Harga minyak mentah global terus mengalami kenaikan akibat meningkatnya ketegangan antara Iran dan Israel. Konflik ini telah memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu wilayah paling vital dalam rantai energi dunia.
Mengutip dari YahooNews, Selasa (17/6/2025), harga minyak Brent tercatat naik 2,8% menjadi USD76,29 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,7% ke USD74,95 per barel. Lonjakan ini terjadi setelah eskalasi konflik yang semakin intens, termasuk serangan udara dan ancaman balasan dari kedua negara.
Selain itu, ketegangan ini juga mendorong pemerintah berbagai negara untuk mencari alternatif energi guna mengurangi ketergantungan pada minyak mentah. Di Indonesia, Kementerian ESDM sedang mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sebagai langkah antisipatif terhadap lonjakan harga minyak.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Mulai Pengaruhi Pasar Kripto
Salah satu dampak yang paling terlihat adalah di sektor energi. Dengan Iran yang menguasai sisi utara Selat Hormuz, setiap ancaman terhadap jalur pelayaran minyak di wilayah ini segera mendorong harga minyak mentah naik.
Meskipun berinvestasi langsung pada komoditas minyak mungkin tampak menarik, pada kenyataannya, pasar ini sangat dipengaruhi oleh kepentingan politik dan manuver organisasi, seperti OPEC. Lonjakan harga yang terlalu tajam menciptakan volatilitas tinggi, yang seringkali sulit dikelola oleh investor ritel.
Akibatnya, banyak investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan Bitcoin. Kenaikan emas di atas USD3.400 dan kembalinya Bitcoin ke kisaran USD105.000 menunjukkan bahwa aset safe haven masih memiliki daya tarik yang kuat di masa ketidakpastian.
