ASIAWORLDVIEW – Disrupsi digital telah mengubah berbagai aspek kehidupan, dari cara kita bekerja hingga berinteraksi dengan teknologi. Fenomena ini membawa tantangan sekaligus peluang bagi individu, bisnis, dan pemerintah.
Kondisi ini menyebabkan ketimpangan digital. Selain itu, akses terhadap teknologi masih belum merata, terutama di daerah pedesaan.
Ancaman siber meningkat seiring dengan digitalisasi, memerlukan sistem keamanan yang lebih kuat. Pemerintah harus menyesuaikan regulasi agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi.
Namun peran media tetap tidak tergantikan. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk brand dan sektor swasta, dalam menjaga keberlanjutan media independen di Indonesia.
Media memainkan peran krusial dalam menjaga kualitas demokrasi dan keterbukaan informasi. Sebagai pilar keempat demokrasi, media berfungsi sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat, memastikan transparansi serta akuntabilitas
Baca Juga: Teknologi Web3 Terus Berkembang di Indonesia, Potensi Ekonomi Digital
Survei yang dilakukan oleh Vero, agensi komunikasi strategis di Asia Tenggara, terhadap lebih dari 100 jurnalis dan editor dari berbagai wilayah Indonesia, mengungkapkan dinamika terkini di ruang redaksi. Disrupsi digital dan perubahan perilaku audiens menjadi sorotan utama, dengan 44,1% responden menyebutnya sebagai tantangan paling mendesak.
Tren ini sejalan dengan semakin populernya konten video pendek, algoritma media sosial yang mendominasi konsumsi berita, serta menurunnya kepercayaan terhadap informasi digital. Media konvensional dituntut untuk beradaptasi agar tetap relevan, namun dalam prosesnya mereka juga harus menghadapi kendala sumber dayadan tekanan bisnis.
Selain itu, 33,3% responden mengungkapkan kekhawatiran terhadap ketidakstabilan finansial sebagai faktor utama yang menghambat kinerja jurnalistik. Banyak media harus melakukan pemangkasan anggaran.
