Trump Tariff Sebabkan Pendapatan AS dari Bea Cukai Melonjak

Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Instagram)

ASIAWORLDVIEW – Kebijakan tarif baru yang diberlakukan oleh Amerika Serikat telah menjadi pendorong utama lonjakan pendapatan bea cukai yang luar biasa. Trump Tariff ini dirancang untuk melindungi industri dalam negeri dan memperkuat ekonomi, tetapi juga membawa efek samping seperti potensi kenaikan harga barang bagi konsumen.

Pada bulan April 2025, Amerika Serikat mengalami lonjakan pendapatan bea cukai yang bersejarah, yang sebagian besar disebabkan oleh kebijakan tarif yang diperkenalkan Presiden AS Donald Trump. Dengan kondisi ini, strategi ekonomi “America First” jelas memiliki dampak luas, baik positif maupun tantangan baru dalam perdagangan internasional.

Kebijakan-kebijakan ini, yang merupakan bagian dari strategi ‘America First’, menghasilkan peningkatan pendapatan yang luar biasa, melebihi USD15,4 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar USD6 miliar dibandingkan dengan bulan Maret, menandai pertumbuhan bulanan lebih dari 60%.

Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani: Lanskap Perdagangan Global Berubah akibat Trump Tariff

Pembayaran bea cukai harian juga mengalami peningkatan hampir 40%, menggarisbawahi dampak substansial dari tarif ini. Pendorong utama di balik peningkatan pendapatan ini adalah kenaikan tarif impor baja dan pemberlakuan tarif universal yang baru. Tarif impor baja dinaikkan menjadi 25%.

Sementara tarif 10% baru diterapkan pada produk impor lainnya mulai 2 April. Langkah-langkah ini dirancang untuk meningkatkan pendapatan federal, menggemakan praktik-praktik historis dari tahun 1870 hingga 1913 ketika tarif merupakan sumber utama pendapatan federal sebelum pajak penghasilan ditetapkan.

Trump secara konsisten membela tarif-tarif ini, dengan menyatakan bahwa tarif-tarif ini berpotensi menggantikan pajak penghasilan. Dia menyatakan, “Ada kemungkinan bahwa uang dari tarif bisa sangat besar sehingga bisa menggantikan pajak penghasilan.”

Meskipun pendapatan bea cukai memecahkan rekor, dampak fiskal tetap marjinal ketika mempertimbangkan utang nasional dan defisit federal. Risiko ekonomi struktural, seperti inflasi harga dan gangguan pada rantai pasokan global, mungkin lebih besar daripada manfaat fiskal jangka pendek.