Di Tengah Isu Trump Tariff, Elon Musk Serukan Zona Perdagangan Bebas

Elon Musk.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Elon Musk telah secara terbuka menyerukan penghapusan tarif antara Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menciptakan zona perdagangan bebas. Dalam sebuah konferensi di Florence, Italia, Musk menyatakan bahwa situasi tanpa tarif akan memungkinkan hubungan perdagangan yang lebih erat antara kedua wilayah tersebut.

Seruan ini muncul setelah kebijakan tarif baru yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump, yang memicu ketegangan perdagangan global. Padahal, bos Tesla itu merupakan pendukung terkuat Trump.

Musk mengkritik kebijakan tersebut, menyebutnya sebagai penghalang bagi pertumbuhan ekonomi dan perdagangan bebas. Ia menyerukan “tanpa tarif” antara AS dan Eropa pada hari Sabtu di tengah kegelisahan pasar saham tentang rezim tarif baru Presiden Donald Trump yang sangat besar.

Baca Juga: Imbas Trump Tariff: Harga Saham Turun dan Picu Ketegangan Ekonomi Global

Musk membuat komentar tersebut, yang bertentangan dengan tarif yang dijanjikan Trump pekan lalu. Hal ini diberlakukan pada semua mitra dagang AS, termasuk negara-negara Eropa, kepada sekelompok politisi konservatif Italia.

“Pada akhirnya, saya berharap disepakati bahwa Eropa dan Amerika Serikat harus bergerak secara ideal, dalam pandangan saya, ke situasi tanpa tarif, yang secara efektif menciptakan zona perdagangan bebas antara Eropa dan Amerika Utara,” ujar miliarder teknologi ini kepada Matteo Salvini, pemimpin Partai Liga sayap kanan Italia.

Tarif adalah inti dari pidato ekonomi Trump pada masa kampanye tahun 2024, dan ia telah berulang kali mencirikannya sebagai pengaruh untuk mengatasi kesenjangan perdagangan.

“Tarif memberi kita kekuatan besar untuk bernegosiasi. Selalu begitu,” katanya kepada wartawan di Air Force One pekan lalu, tanpa memberikan rincian tentang seberapa rendah tarif yang bisa dicapai.

Di platform media sosialnya, X, Musk juga menyindir Peter Navarro, salah satu penasihat perdagangan utama di Gedung Putih. Navarro adalah salah satu dari banyak pejabat pemerintahan yang tampil di televisi minggu ini untuk membela rencana tarif kontroversial presiden setelah pasar saham anjlok.