Beban Hidup dan Ekonomi Masyarakat Indonesia Terus Bertambah

Uang rupiah.(Pixabay)

ASIAWORLDVIEW – Gejolak pasar Indonesia menambah kekhawatiran ekonomi yang menekan sentimen di kalangan konsumen, bisnis dan investor ritel. Kondisi ini terjadi saat libur terbesar Idul FItri di Asia Tenggara, mengutip Bloomberg

Puluhan juta orang Indonesia diperkirakan akan mudik tahun ini di Jawa, Sumatra, Kalimantan dan pulau-pulau lain di nusantara. Meski kondisi tak menentu, tradisi ini terus berjalan.

Pemotongan anggaran, rencana pengeluaran populis dan ketidakpastian kebijakan di bawah Presiden Prabowo Subianto telah menambah kekhawatiran.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang baru-baru ini membukukan penurunan intraday terbesar dalam lebih dari satu dekade terakhir, adalah salah satu yang berkinerja terburuk di dunia tahun ini, sementara pada tanggal 25 Maret, rupiah merosot ke level terlemah sejak krisis keuangan Asia di akhir 1990-an.

Baca Juga: AHY: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh dengan Baik di Tengah Tantangan Global

Sekarang, pasar-pasar lokal sedang libur, tutup selama lebih dari seminggu untuk menandai berakhirnya bulan puasa Ramadan.

Faktor-faktor yang membebani rumah tangga dalam beberapa bulan terakhir ini sangat beragam, mulai dari pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tekstil yang masif di Indonesia hingga melemahnya harga nikel dan jatuhnya nilai tukar rupiah.

Shinta Widjaja Kamdani, ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, menunjuk pada kenaikan biaya bahan baku bulan lalu setelah depresiasi rupiah.

“Biaya input yang lebih tinggi akan mengikis margin dan dapat menaikkan harga jual,” katanya dalam sebuah pernyataan. Hal ini “dapat menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan melemahnya pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.”