ASIAWORLDVIEW – Rasa sakit atau cedera sering kali dipandang sebagai simbol ketangguhan. Apalagi bagi penggemar olahraga. Kondisi ini erupakan kemampuan seseorang untuk menahan rasa sakit dianggap sebagai bukti kekuatan mental dan fisik.
Namun, perspektif ini bisa menimbulkan bahaya jika rasa sakit hanya dilihat sebagai “lencana keberanian” tanpa memperhatikan risiko jangka panjang terhadap kesehatan. Cedera yang diabaikan atau dianggap sekadar rintangan sementara dapat berkembang menjadi masalah kronis.
“Banyak penggiat kebugaran maupun pelari berpengalaman yang menganggap rasa sakit atau cedera sebagai simbol ketangguhan, atau sekadar rintangan sementara yang bisa dilewati begitu saja,” ujar Dr. Alan Cheung, Spesialis Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Novena Hospital, Singapura.
Baca Juga: Rutin Olahraga Jaga Kekuatan Otot, Terhindar dari Sarcopenia
Kondisi ini juga bisa menurunkan kualitas hidup. Bahkan menghambat produktivitas seseorang. Padahal, rasa sakit adalah sinyal biologis penting dari tubuh, sebuah mekanisme protektif yang mengingatkan kita akan adanya kerusakan jaringan atau ketidakseimbangan.
“Menganggap rasa sakit hanya sebagai hambatan kecil yang bisa dilewati begitu saja berpotensi mengabaikan fungsi vitalnya sebagai peringatan dini,” ia menambahkan.
Padahal, memaksakan diri untuk menahan rasa sakit yang tidak wajar adalah sebuah kesalahan yang cukup fatal. Jika cedera otot akut atau nyeri sendi tidak kunjung mereda setelah menerapkan metode RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation), Anda harus segera mendapatkan pemeriksaan medis profesional.
“Jika tetap melakukan latihan dalam kondisi cedera yang dibiarkan, justru akan membuat sendi tidak stabil, mempercepat kerusakan jaringan, dan secara signifikan meningkatkan risiko munculnya kondisi degeneratif jangka panjang seperti osteoartritis (pengapuran sendi),” jelasnya.
Selain itu, rasa sakit seharusnya diperlakukan sebagai bagian dari proses adaptasi tubuh dan pikiran, bukan sebagai sesuatu yang harus ditolak atau ditutupi. Ketangguhan sejati bukanlah kemampuan untuk menahan rasa sakit tanpa henti, melainkan kebijaksanaan untuk mengenali batas tubuh, mencari perawatan yang tepat, dan membangun kembali kekuatan secara bertahap.
