ASIAWORLDVIEW – Es krim dapat dimasukkan ke dalam pola makan yang menjaga defisit kalori, asalkan dikonsumsi dalam porsi yang tepat dan diperhitungkan dalam asupan kalori harian Anda secara keseluruhan. Tidak ada satu pun makanan yang menyebabkan kenaikan berat badan; sebaliknya, perubahan berat badan dari waktu ke waktu ditentukan oleh keseimbangan kumulatif antara kalori yang dikonsumsi dan kalori yang dibakar.
Es krim merupakan makanan padat energi, yang berarti makanan ini menyediakan jumlah kalori yang relatif tinggi per gram. Apalagi karena kandungan lemak dan gulanya.
Mengkonsumsi es krim secara sadar, sebagai bagian dari pola makan harian yang terencana dengan baik. Tidak secara otomatis mengganggu defisit kalori, mengutip Health, Selasa (7/7/2026).
Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan fleksibel terhadap pembatasan pola makan, yang memungkinkan sesekali menikmati makanan favorit dalam batas asupan kalori keseluruhan, dikaitkan dengan kepatuhan pola makan jangka panjang yang lebih baik dibandingkan pembatasan yang kaku. Kondisi ini justru dapat mengurangi risiko terjadinya episode makan yang tidak terkendali.
Baca Juga: Rasa Es Krim yang Populer di Indonesia: Perpaduan Tradisi dan Kenikmatan Tropis
Daripada menganggap es krim sebagai makanan yang ‘dilarang’, memasukkannya secara bijak ke dalam batas asupan kalori Anda. Alhasil dapat membuat pola makan Anda secara keseluruhan menjadi lebih berkelanjutan.
Mengonsumsi es krim saat diet sebenarnya tetap memungkinkan, asalkan dilakukan dengan cara yang bijak dan penuh kontrol. Langkah pertama adalah memilih varian lebih sehat, misalnya es krim rendah gula, tinggi protein, atau berbasis nabati seperti yogurt Greek, susu almond, atau buah beku. Hindari produk dengan tambahan gula berlebih atau corn syrup, dan selalu periksa label agar kandungan gula tidak lebih dari 10 gram per 100 ml.
Nilai kalori bervariasi secara signifikan tergantung pada merek, jenis, dan resep. Satu porsi standar 100 g es krim vanila berlemak penuh mungkin mengandung sekitar 180–250 kkal, meskipun varian premium atau yang lebih lezat bisa lebih tinggi. Selalu periksa label nutrisi untuk angka per 100 g dan per porsi, karena ini adalah panduan yang paling dapat diandalkan.
Atur waktu konsumsi dengan menjadikannya dessert setelah makan utama yang kaya protein dan serat, bukan saat perut kosong, agar tidak memicu lonjakan gula darah. Jangan lupa, kontrol porsi dengan mengambil satu scoop kecil (sekitar 80–120 kalori) menggunakan mangkuk atau sendok mini, lalu nikmati perlahan dengan mindful eating sehingga otak punya waktu untuk merasa puas.
Batasi topping manis seperti saus cokelat atau karamel, dan gantikan dengan buah segar, kacang, atau granola rendah gula. Imbangi dengan aktivitas fisik seperti berjalan kaki atau olahraga ringan setelah makan, agar glukosa diproses sebagai energi bukan disimpan sebagai lemak.
