ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hari ini, Senin (6/7/2026), bergerak melemah ke kisaran Rp17.955–17.995 per USD. Angkanya turun sekitar 0,16–0,18% dibanding penutupan akhir pekan lalu.
Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi dolar AS yang relatif stabil setelah laporan ketenagakerjaan menunjukkan perlambatan. Alhasil ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berkurang.
Namun, stabilitas dolar tetap menekan rupiah karena investor global masih menempatkan USD sebagai aset aman. Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik, khususnya hubungan AS-Iran terkait Selat Hormuz dan pasokan energi dunia. Kondisi trsebut menambah tekanan eksternal yang membuat investor lebih berhati-hati.
Dari dalam negeri, faktor fundamental seperti cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, dan penerimaan pajak akan menjadi penentu arah rupiah sepanjang pekan ini. Namun, risiko pelemahan tetap besar karena sentimen investor masih berhati-hati terhadap kondisi fiskal Indonesia dan potensi downgrade utang.
Rupiah menunjukkan variasi pergerakan jika dibandingkan dengan mata uang utama di Asia. Terhadap yuan China (CNY) dan yuan lepas pantai (CNH), rupiah relatif stabil di kisaran Rp2.648 per unit. Kondisi ini mencerminkan hubungan perdagangan yang erat antara Indonesia dan Tiongkok serta konsistensi kebijakan moneter kedua negara.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS
Sementara itu, terhadap dolar Singapura (SGD), rupiah melemah tipis ke Rp13.925 per unit, menunjukkan kekuatan finansial Singapura sebagai pusat regional. Rupiah lebih lemah terhadap yen Jepang (JPY) di Rp11.168 per 100 yen, karena yen kembali menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Pelemahan juga terlihat terhadap ringgit Malaysia (MYR) di Rp4.414 per unit, didukung oleh harga komoditas yang menopang ekonomi Malaysia.
Di sisi lain, rupiah relatif stabil terhadap baht Thailand (THB) di Rp542 per unit, sejalan dengan tren ekspor regional Asia Tenggara. Terhadap won Korea Selatan (KRW), rupiah juga stabil di Rp11,76 per unit, mencerminkan kesamaan tren dengan mata uang Asia Timur. Pergerakan kecil terlihat terhadap dong Vietnam (VND) di Rp0,69 per unit, serta pelemahan tipis terhadap peso Filipina (PHP) di Rp292 per unit, yang didukung oleh remitansi pekerja Filipina dari luar negeri.
Secara keseluruhan, rupiah hari ini melemah terhadap yen Jepang dan ringgit Malaysia, stabil terhadap yuan, baht, won, dan dong, serta melemah tipis terhadap dolar Singapura dan peso Filipina. Kondisi ini mencerminkan kombinasi faktor eksternal seperti kekuatan dolar AS, permintaan aset safe haven, serta harga komoditas regional, sekaligus menunjukkan bahwa rupiah masih mampu bertahan terhadap sebagian besar mata uang Asia meski tekanan global tetap tinggi.
Secara proyeksi, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.700–Rp18.100 per USD. Peluang penguatan jika data domestik mendukung dan indeks dolar AS melemah lebih lanjut.
Hal ini membuat rupiah berada dalam posisi rapuh. Ada peluang rebound jika faktor domestik positif, tetapi ancaman pelemahan tetap nyata akibat volatilitas tinggi, ketergantungan pada kebijakan moneter AS, serta isu fiskal dalam negeri.

