ASIAWORLDVIEW – Seluruh Eropa sedang mengalami beberapa gelombang panas terpanas yang pernah tercatat pada musim panas ini. Bahkan suhunya hingga 40 derajat Celcius. World Health Organization atau WHO mengingatkan bahwa gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa saat ini bukan lagi peristiwa langka, melainkan krisis berulang yang semakin kuat, sering, dan berlangsung lebih lama.
Suhu panas exterem ini dikabarkan belum pernah mereka alami sebelumnya. Kondisi ini dapat memicu beberapa masalah kulit yang dapat menimpa siapa saja, tidak hanya orang dengan masalah kulit.
Pakar kulit Dr. Eva Melegh dalam blog-nya menyebutkan, warga di Eropa mengalami Polymorphic Light Eruption (PLE). Reaksi alergi terhadap sinar matahari dan muncul sebagai ruam kulit yang sering disalahartikan sebagai ruam panas, padahal sebenarnya merupakan alergi kulit.
Kondisi ini lebih umum terjadi pada orang muda dan lebih sering menyerang wanita daripada pria. Remaja laki-laki awal juga berisiko lebih tinggi, terutama di area telinga. Orang dengan kulit cerah juga lebih rentan. Ruam PLE muncul setelah terpapar sinar matahari, dan meskipun ruam ini biasanya hilang dengan sendirinya dalam 5–7 hari, ruam tersebut dapat kambuh berulang kali selama beberapa minggu setelah dipicu. Jika lepuh pecah atau bagian atasnya tergores, ruam ini juga dapat dengan mudah terinfeksi akibat bakteri dari luar yang masuk ke dalam lepuh yang terbuka.
Baca Juga: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tingkatkan Risiko Heatstroke hingga Kematian
Gejala utama PLE adalah ruam pada kulit yang muncul setelah terpapar sinar matahari dan panas ekstrem, biasanya dalam beberapa jam atau hari, dan seringkali terasa sangat gatal.

Ruam ini biasanya berupa bercak merah besar yang sering disertai lepuh kecil pada kulit dan terasa seperti terbakar. Anehnya, ruam PLE sering kali tidak muncul pada kulit yang terpapar sinar matahari, melainkan pada area yang tidak terkena sinar matahari langsung seperti dada, bokong, dan ketiak, namun telah terpapar panas ekstrem. Tempat umum lainnya di mana PLE muncul adalah di telinga, sering disertai lepuh kecil yang gatal.
Antihistamin cukup efektif untuk mengatasi ruam PLE yang berulang. Mandi dengan air dingin juga membantu meredakan gatal. Mengurangi jumlah bakteri kulit jahat di permukaan kulit yang terinfeksi juga dapat membantu.
Selain itu, mereka juga mengalami ruam panas, reaksi kulit terhadap keringat berlebih dan terjadi ketika kelenjar keringat tersumbat akibat peradangan pori-pori kulit akibat panas. Muncul benjolan-benjolan kecil berwarna merah yang terasa gatal dan panas.
Ruam ini sering muncul dengan cepat pada kulit yang terpapar sinar matahari dan cenderung paling umum terjadi di area yang menumpuk banyak kelembapan dan keringat, seperti di bawah ketiak, di bawah payudara, di leher yang tertutup rambut panjang, di belakang lutut, di lipatan siku, dan di area selangkangan (terutama pada bayi yang memakai popok).
Hingga 30% orang dewasa mengalami ruam panas, dan kondisi ini bahkan lebih umum terjadi pada bayi dan anak kecil karena kelenjar keringat serta saluran keringat mereka masih dalam tahap pertumbuhan, serta tubuh mereka mungkin belum dapat mengatur suhu tubuh sebaik orang dewasa. Ruam panas lebih mungkin terjadi jika cuaca panas disertai kelembapan yang tinggi.
Segera lepaskan pakaian yang ketat atau basah oleh keringat, lalu dinginkan kulit dengan berpindah ke area yang lebih sejuk dan teduh. Jika memungkinkan, segera mandi air dingin dan jangan menggosok kulit yang terkena ruam, cukup bilas dengan lembut. Keringkan area yang terkena ruam dengan baik sebelum mengenakan pakaian kembali, dan hindari mengoleskan pelembap tebal atau tabir surya hingga ruam hilang.
Setelah ruam hilang, lakukan eksfoliasi lembut pada area yang terkena untuk mengangkat sel-sel kulit mati yang tersisa yang mungkin terjebak di pori-pori kulit yang meradang.
