ASIAWORLDVIEW – Film menjadi tontonan masyarakat bukan hanya karena sifatnya yang menghibur, tetapi juga karena kemampuannya menghadirkan pengalaman kolektif yang menyentuh berbagai lapisan kehidupan. Mengajak masyarakat untuk merenungkan nilai-nilai yang dianut. Bahkan, menyelipkan unsur budaya. Bahkan, memiliki kekuatan unik sebagai medium refleksi lintas waktu, mampu melihat masa lalu, merekam jejak sejarah, tradisi, dan pengalaman kolektif bangsa yang seringkali terlupakan.
“Melalui narasi visual, film menghadirkan kembali memori sosial dan budaya, sehingga generasi kini dapat memahami akar identitasnya. Di saat yang sama, film juga berfungsi untuk merefleksikan masa kini, menjadi cermin atas realitas sosial, politik, dan ekonomi yang sedang berlangsung. Ia menyoroti isu-isu kontemporer, mengkritisi ketimpangan, sekaligus merayakan keberagaman yang membentuk wajah bangsa hari ini,” sebut Menteri Kebudyaan Fadli Zon saat membahas mengenai esensi film dalam konferensi pers Festival Film Indonesia di Jakarta.
“Film juga bisa sebagai media mengkritisi perjalanan sejarah maupun sosial, serta membayangkan cita-cita bersama sebagai bangsa. Menjadi wadah di mana pengalaman personal dan kolektif bertemu, sehingga mampu membentuk kesadaran baru tentang siapa kita,” jelasnya lagi.
Baca Juga: Menbud Fadli Zon Bangga Film Indonesia Kian Berkualitas dan Kreatif
Film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium refleksi kolektif yang menghubungkan memori, realitas, dan imajinasi masyarakat. Melalui narasi, visual, dan simbol-simbol yang dihadirkan, film membuka ruang dialog yang memungkinkan penonton untuk meneguhkan identitas.
Film sering kali berperan sebagai arsip budaya yang merekam dinamika zaman. Baik dalam bentuk cerita rakyat, kisah perjuangan, maupun potret kehidupan sehari-hari.
“Ketika sebuah film berhasil menyentuh lapisan emosional penonton, menciptakan resonansi kolektif yang memperkuat rasa kebersamaan,” ia menambahkan.
“Flm dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas nasional, memperluas wawasan tentang keberagaman, sekaligus menjadi medium kritik terhadap kebijakan atau kondisi sosial yang ada. Bahkan, menjadi alat komunikasi budaya yang mampu menggerakkan masyarakat menuju refleksi, perubahan, dan cita-cita bersama,” pungkasnya.
