ASIAWORLDVIEW – Prevalensi obesitas anak di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan karena semakin banyak anak mengalami kelebihan berat badan sejak usia sekolah. Data nasional mencatat bahwa hampir 1 dari 5 anak usia 5–12 tahun mengalami masalah berat badan, dengan 10,8% tergolong gemuk dan 9,2% obesitas. Kondisi ini berlanjut pada remaja usia 13–15 tahun, di mana proporsinya meningkat hingga 16%.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mulai melakukan intervensi. Mencegah anak terkena penyakit akibat gaya hidup tidak sehat membutuhkan perhatian serius dari orang tua dan lingkungan sekitar.
“Pola hidup modern yang cenderung serba cepat sering membuat anak terpapar kebiasaan kurang baik, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, kurangnya aktivitas fisik, serta terlalu banyak waktu di depan layar. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit seperti obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, hingga gangguan metabolisme sejak usia dini,” sebut Ketua Umum PP IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K).
Baca Juga: IDAI: Kasus Obesitas dan Diabetes Anak di Indonesia Meningkat
IDAI mencatat, jika obesitas pada anak tidak ditangani sejak dini, dampaknya akan terbawa hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti jantung koroner, stroke, dan gangguan hati. Selain itu, pubertas dini dan ketidakseimbangan hormonal dapat muncul, terutama pada anak perempuan, yang berpengaruh pada kesehatan reproduksi di masa depan.
Langkah pencegahan harus dimulai dari rumah. Langkah ini bisa dimulai dengan membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak buah dan sayur. Tentu saja, mengajarkan anak untul mengurangi makanan olahan dan minuman manis.
Tak lupa, orangtua perlu mendorong anak untuk aktif bergerak, misalnya dengan olahraga ringan, bermain di luar rumah, atau mengikuti kegiatan fisik yang menyenangkan.
“Orang tua juga perlu menjadi teladan dengan menerapkan gaya hidup sehat agar anak meniru perilaku positif tersebut,” ia menambahkan.
