IHSG Menguat, Sentimen Damai AS-Iran Dorong Bursa

IHSG by AI-Generated Image

ASIAWORLDVIEW Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menjadi barometer utama pergerakan pasar modal Indonesia di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka dengan penguatan signifikan hari ini, Jumat (12/6/2026). Naik sebesar 74,38 poin atau setara dengan 1,26 persen sehingga menyentuh level 5.960,27.

Lonjakan ini terjadi seiring dengan menguatnya bursa saham global yang turut terdorong oleh meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen positif tersebut meredakan kekhawatiran akan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selama ini konflik geopolitik membayangi stabilitas ekonomi dan perdagangan internasional. Alhasil menghambat masuknya aliran modal ke aset-aset berisiko seperti saham, termasuk di pasar negara berkembang seperti Indonesia. Katalis perdamaian AS-Iran ini memberikan harapan bahwa potensi gangguan terhadap pasokan energi global serta ketidakpastian kebijakan luar negeri bisa diminimalisir, yang pada akhirnya menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dunia.

Baca Juga: IHSG Menguat, Kebijakan BI Jadi Penopang

Dampak positifnya langsung terasa di lantai bursa domestik, di mana penguatan IHSG turut diiringi oleh kenaikan pada kelompok saham-saham unggulan yang terangkum dalam Indeks LQ45. Indeks yang terdiri dari 45 saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat ini tercatat naik 9,97 poin atau 1,70 persen ke posisi 596,81. Posisi ini mengindikasikan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar dan paling diminati investor justru mengalami apresiasi harga yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan IHSG secara keseluruhan.

Rekomendasi saham menunjukkan fokus pada sektor energi, infrastruktur, dan beberapa saham defensif. Analis menilai MEDC layak untuk strategi Buy on Weakness dengan target Rp 1.290–1.390 dan batas stoploss di bawah Rp 1.155, sementara PGAS direkomendasikan sebagai Trading Buy dengan target Rp 1.570–1.635 dan stoploss di bawah Rp 1.405. Saham SMDR juga masuk radar dengan target Rp 286–296.

Sedangkan VKTR dipandang menarik untuk Buy on Weakness dengan target Rp 655–695. Di luar itu, broker menyoroti saham defensif seperti MYOR, BBCA, dan BBNI sebagai pilihan aman di tengah volatilitas pasar. Meski peluang rebound IHSG cukup besar, risiko tetap tinggi karena potensi aksi profit taking setelah reli singkat, pelemahan rupiah mendekati Rp 18.000 per USD, serta tekanan inflasi domestik.

Hal ini memperlihatkan bahwa investor, terutama asing yang cenderung memilih saham likuid dan berfundamental kokoh, cukup agresif melakukan pembelian setelah adanya sinyal de-eskalasi konflik. Keyakinan pelaku pasar terhadap prospek perdamaian telah memicu perburuan saham-saham pilihan yang mendorong indeks acuan utama dan indeks LQ45 bergerak kompak di zona hijau sejak awal sesi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *