ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah pada Kamis, (11/6/2026), menunjukkan dinamika yang cukup menarik. Kondisi ini mencerminkan kombinasi faktor domestik dan eksternal yang memengaruhi pergerakan mata uang. Rupiah dibuka melemah tipis sebesar 3 poin atau 0,02 persen ke level Rp17.947 per dolar AS di pasar spot exchange, menandakan adanya tekanan awal dari sentimen global.
Namun, sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat tipis ke posisi Rp17.941 per dolar AS. Angka ini lebih baik dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.944.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa meski tekanan eksternal cukup besar, ada dukungan dari faktor domestik yang menjaga stabilitas rupiah. Analis memperkirakan Rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS sepanjang hari, mencerminkan volatilitas yang masih terkendali.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS
Faktor pendorong utama penguatan Rupiah datang dari optimisme kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dinilai masih membuka ruang kenaikan suku bunga, sehingga mampu menarik minat investor asing dan menopang nilai tukar. Selain itu, kebijakan pemerintah dalam penyesuaian harga Pertamax dipandang positif karena membantu keseimbangan eksternal dan stabilitas makroekonomi.
Rupiah masih menghadapi tekanan dari sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan menekan mata uang negara berkembang. Faktor eksternal lain yang turut membatasi ruang penguatan rupiah adalah data inflasi Amerika Serikat, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed dan pergerakan dolar AS.
Jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, rupiah menunjukkan performa yang relatif stabil. Beberapa mata uang regional justru melemah. Misalnya, yen Jepang (-0,05%), yuan China (-0,07%), dolar Singapura (-0,12%), dan won Korea Selatan (-0,10%). Sementara itu, ada mata uang yang menguat, seperti peso Filipina (+0,24%), ringgit Malaysia (+0,05%), dan rupee India (+0,08%). Dolar Hong Kong relatif stagnan. Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan tren regional, meski tetap dipengaruhi oleh faktor domestik yang cukup kuat.
Prospek Rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek, mengikuti arus modal asing dan perkembangan harga minyak dunia. Namun, dalam jangka menengah, Bank Indonesia optimistis rupiah akan menguat pada 2027, dengan proyeksi rata-rata di kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS. Optimisme ini didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten menjaga stabilitas, serta harapan meredanya ketidakpastian global.
