ASIAWORLDVIEW – Fenomena pergeseran pola perjalanan wisatawan di Indonesia menunjukkan transformasi mendalam dalam cara masyarakat memaknai perjalanan. Jika sebelumnya destinasi populer di kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Bali mendominasi, kini wisatawan domestik semakin tertarik menjelajahi wilayah di luar pusat urban.
Dorongan ini lahir dari keinginan menemukan keindahan alam yang masih asri, pengalaman autentik yang tidak dikemas secara massal. Wisatawan juga memilih pengalaman baru untuk berinteraksi lebih dekat dengan budaya dan masyarakat lokal. Laporan terbaru Airbnb, Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific.
Data terbaru menunjukkan bahwa minat wisatawan Indonesia terhadap destinasi di luar kota besar semakin kuat dan konsisten. Sebanyak 92% wisatawan domestik memilih mengunjungi tempat-tempat yang belum banyak dijamah dalam setahun terakhir, menandakan pergeseran preferensi dari wisata perkotaan menuju pengalaman yang lebih autentik dan alami.
Baca Juga: Menteri Widiyanti Bangga Pariwisata Indonesia Tumbuh di Tengah Konflik Geopolitik
Fenomena ini turut tercermin dalam sebaran penginapan Airbnb di Indonesia: hampir satu dari lima unit Airbnb berlokasi di luar kota besar, dan secara agregat terjadi peningkatan lebih dari 15% pada durasi menginap tamu dibandingkan tahun 2025.

Angka ini memperlihatkan bahwa wisatawan tidak sekadar singgah, tetapi juga memperpanjang waktu tinggal untuk menyelami kehidupan lokal. Pertumbuhan paling mencolok terlihat di Lombok, di mana lama periode menginap melonjak hingga 68%, serta di Kabupaten Nabire, Papua, yang pada 2025 untuk pertama kalinya menyambut tamu Airbnb—sebuah tonggak yang menandakan lahirnya destinasi-destinasi baru yang sebelumnya nyaris tak tersentuh pariwisata.
Menariknya, dominasi tamu di penginapan luar kota besar justru datang dari wisatawan mancanegara. Sebanyak 90% tamu yang melakukan check-in di akomodasi non-perkotaan berasal dari luar negeri, membuktikan bahwa daya tarik Indonesia di mata dunia tidak lagi terpusat di Bali atau Jakarta, melainkan kian menyebar ke pelosok.
Hal ini mengindikasikan bahwa keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan lokal Indonesia berhasil menembus pasar global secara lebih merata. Lebih dari sekadar berwisata, tamu masa kini menginginkan perjalanan yang bermakna dan berdampak.
Data memperlihatkan bahwa 95% wisatawan menyatakan keinginan kuat untuk mendukung masyarakat lokal, dan fakta paling mencolok adalah 100% tamu mengakui bahwa rekomendasi dari tuan rumah secara langsung memengaruhi pola pengeluaran mereka selama berwisata. Artinya, host atau pemilik penginapan bukan sekadar penyedia tempat tidur, melainkan telah menjadi jembatan penghubung yang membentuk pengalaman baru bagi wisatawan.
Selain itu, mengarahkan belanja ke ekonomi setempat, dan memperkuat hubungan antara pelancong dengan komunitas yang dikunjungi. Keseluruhan data ini menegaskan bahwa pariwisata Indonesia sedang bertransformasi: dari model massal di pusat kota menjadi ekowisata berbasis komunitas yang tersebar, inklusif, dan digerakkan oleh pencarian makna, serta didorong oleh kekuatan rekomendasi personal yang begitu tinggi dampaknya.
Kondisi ini menegaskan bahwa permintaan terhadap destinasi non-perkotaan terus meningkat. Selain itu, membuka peluang baru bagi komunitas di seluruh Indonesia untuk terlibat langsung dalam industri pariwisata.
