ASIAWORLDVIEW – Peran orangtua di era digital sangat penting karena mereka menjadi garda terdepan dalam membimbing anak menghadapi arus informasi yang begitu cepat dan beragam. Anak-anak kini tumbuh dengan akses luas ke internet, media sosial, dan perangkat digital, yang di satu sisi membuka peluang besar untuk belajar dan berkembang, tetapi di sisi lain juga membawa risiko seperti paparan konten negatif, cyberbullying, hingga kecanduan gawai.
“Orangtua berperan sebagai pengarah dan pengawas, memastikan anak menggunakan teknologi secara sehat dan produktif. Dengan memberikan pendampingan digital, orangtua dapat menanamkan nilai kritis, etika, serta kebiasaan positif dalam berinteraksi di dunia maya,” sebut psikolog Klinis dan Founder Amanasa, Marsha Tengker acara press briefing Google Indonesia bertajuk “AKSIDigital: Ruang Tumbuh Keluarga Indonesia” di Jakarta.
Ia menekankan bahwa peran orangtua di era digital bukanlah untuk menjauhkan anak dari teknologi, melainkan untuk membantu mereka membangun hubungan yang sehat dengan dunia digital. Hubungan ini tidak bisa dibangun secara paksa.
“Kuncinya adalah membangun fondasi koneksi emosional yang kuat di dunia nyata; ketika seorang anak merasa “di-validasi” dan kebutuhan kehangatannya terpenuhi oleh orang tuanya di rumah, mereka tidak akan merasa perlu mencari pelarian emosional ke dunia maya,” ia menambahkan.
Baca Juga: YouTube dan Google Luncurkan Fitur Penggunaan Gadget Sehat untuk Anak
Pendekatan ini diumpamakan seperti mengajarkan anak mengenai hubungan yang sehat dengan makanan: mereka perlu diajari untuk mengenali rasa lapar dan kenyang. Saat berselancar di internet, mereka pun bisa menyadari batasan serta kebutuhannya sendiri
“Pada dasarnya kalau anak udah tahu kebutuhannya dia sendiri, dia akan mencari sesuai dengan porsinya,” tegasnya.
Dengan fondasi yang sudah kokoh itu, barulah orang tua dapat memberikan pendampingan yang seimbang, yakni antara memberi perlindungan dan memberikan kepercayaan secara proporsional.
Kepercayaan yang diberikan orang tua akan membentuk rasa percaya diri anak, namun harus selalu dibarengi dengan pengawasan yang sesuai dengan usianya. Untuk membantu anak dalam proses ini, Marsha memperkenalkan kerangka berpikir T-H-I-N-K yang terdiri dari lima aspek: apakah informasi itu True (benar), Helpful (bermanfaat), Inspiring (menginspirasi), Necessary (diperlukan), dan Kind (baik).
“Orangtua dapat mendampingi anak menggunakan teknologi secara lebih sehat, menjadikannya sebagai wadah utama untuk belajar dan menyalurkan kreativitas, tanpa harus merasa teknologi lebih menyenangkan atau lebih dekat daripada orang tuanya sendiri,” ia menambahkan.
Selain itu, orangtua juga perlu menjadi teladan dalam penggunaan teknologi, menunjukkan keseimbangan antara aktivitas online dan offline. Anak belajar mengelola waktu dengan bijak.
