ASIAWORLDVIEW – Deputi Bidang Marketing & Partnership Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), secara tegas menekankan bahwa industri pariwisata dan ritel saat ini telah menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Selain itu, memiliki hubungan yang saling menguatkan.
“Pusat perbelanjaan modern bukan lagi sekadar tempat untuk bertransaksi jual beli, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi berbasis pengalaman (experience-based destination) yang mampu mengakomodasi kebutuhan wisata, hiburan, interaksi sosial, hingga ruang promosi produk lokal dan UMKM dalam satu ekosistem terpadu,” ia menyatakan dalam dalam event “BBWI Travel Fair X BINA 2026” di Surabaya, baru-baru ini.
Sebelumnya, mal atau pusat perbelanjaan dirancang secara fungsional sebagai tempat di mana orang datang dengan daftar belanjaan, mencari produk yang mereka butuhkan, bertransaksi, lalu segera pulang—sebuah aktivitas yang semata-mata utilitarian. Namun, seiring dengan menjamurnya e-commerce dan perubahan gaya hidup masyarakat urban yang menginginkan efisiensi waktu sekaligus pemenuhan kebutuhan emosional, pusat perbelanjaan modern bertransformasi menjadi ruang multidimensi.
Baca Juga: Liburan Cara Baru, BBWI Travel Fair Hadirkan Cerita Sekolah
Kini, mal tidak hanya menawarkan rak-rak barang, tetapi juga pengalaman sensorik dan sosial yang utuh. Pengunjung datang bukan sekadar untuk membeli baju atau elektronik, melainkan untuk menikmati suasana, bersantap di restoran tematik dengan desain interior instagramable, menonton film di bioskop premium, bermain di taman bermain indoor yang interaktif, mengikuti kelas memasak atau seni, hingga sekadar duduk-duduk di area lounging yang nyaman sambil berselancar di wi-fi gratis.
Konsep “destinasi berbasis pengalaman” ini juga diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai event seperti pameran seni, konser musik akustik, bazar produk lokal, hingga perayaan hari besar nasional dengan dekorasi spektakuler.
Pusat perbelanjaan berubah menjadi ruang publik ketiga (setelah rumah dan tempat kerja) yang mengakomodasi kebutuhan wisata ringan (staycation dalam kota) dan hiburan keluarga. Bahkan interaksi sosial antartetangga atau teman.
“Mal atau pusat perbelanjaan kini berperan ganda sebagai meeting point (titik temu) bagi para pelaku industri sekaligus menjadi etalase utama bagi produk lokal dan wirausaha UMKM untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat luas,” ia menambahkan.
Dengan adanya integrasi antara sektor wisata dan belanja ini, Agung Tianara optimistis bahwa daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata sekaligus pusat perbelanjaan kelas dunia akan semakin kuat dan mampu bersaing di kancah global.
