ASIAWORLDVIEW – Upcycled fashion menjadi salah satu inovasi penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif (ekraf). Konsep ini mengedepankan pemanfaatan kembali bahan atau produk lama untuk diolah menjadi karya baru yang lebih bernilai, sehingga tidak hanya mendukung keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis kreatif yang unik.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar. Dalam keterangannya, ia menyatakan mendukung upcycled fashion atau produk kreatif dari daur ulang menjadi industri berbasis kreativitas dan intellectual property (IP) yang dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif.
“Kami mengapresiasi keberanian Future Loundry memadukan estetika post-apocalyptic dengan semangat keberlanjutan sebagai identitas ekonomi kreatif masa depan. Kementerian akan terus memperkuat ekosistem ini agar lebih inklusif dan berdampak nyata bagi pelaku kreatif di Bali maupun nasional,” katanya.
Future Loundry berhasil mengangkat estetika post-apocalyptic sebagai identitas baru dalam ekosistem ekonomi kreatif (ekraf). Pendekatan ini memadukan unsur seni, keberlanjutan, dan kreativitas dengan memanfaatkan konsep upcycled fashion, sehingga produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika unik, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kesadaran lingkungan.
Baca Juga: Kementerian Ekraf Dorong Fashion Ramah Lingkungan
Dengan gaya visual yang berani dan berbeda, Future Loundry menunjukkan bahwa ekraf masa depan tidak lagi terbatas pada simbol tradisional, melainkan mampu menjadikan budaya sebagai fondasi untuk inovasi berkelanjutan. Konsep post-apocalyptic yang mereka usung mencerminkan semangat adaptasi dan keberanian, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam tren global yang menekankan kreativitas, keberlanjutan, dan daya saing produk lokal.
Dengan tren gaya hidup ramah lingkungan yang semakin berkembang, upcycled fashion mampu menarik minat konsumen modern yang peduli pada isu keberlanjutan. Selain itu, praktik ini mendorong kolaborasi antara desainer, komunitas kreatif, dan pelaku usaha lokal.
“Kekuatan ekonomi kreatif tidak lagi hanya terbatas pada simbol tradisional, melainkan pada bagaimana pelaku ekraf menjadikan budaya sebagai fondasi untuk inovasi masa depan yang berkelanjutan dan kompetitif di kancah dunia,” ia menambahkan.
Upcycled fashion memperluas pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia di tingkat global. Kehadirannya dalam ekosistem ekraf menunjukkan bahwa kreativitas dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
