ASIAWORLDVIEW – Kementerian Pertanian, bersama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, telah memastikan bahwa produksi beras tetap optimal menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung dari April hingga Oktober 2026. Untuk memenuhi stok, pemerintah melakukan langkah antisipatif.
“Langkah-langkah tersebut berfokus pada penguatan ketersediaan air dan dukungan benih untuk menjaga produksi beras tetap optimal serta memastikan pasokan pangan tetap terjamin,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam pernyataan yang diterima, Minggu (29/3/2026).
Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif, seperti memperkuat jaringan irigasi pertanian. Pihaknya mengoptimalkan sistem pompa, dan mengoptimalkan lahan non-rawa.
Baca Juga: Bulog Siap Ekspor Beras, Indonesia Targetkan Swasembada Pangan 2026
“Pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah komprehensif untuk musim kemarau melalui penguatan sistem irigasi dan pompa guna memastikan ketersediaan air untuk pertanian,” ia mengatakan.
Jawa Barat, sebagai salah satu lumbung pangan nasional dengan luas sawah sekitar 900.772 hektar, memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas produksi beras nasional. Pemerintah telah mendistribusikan bantuan benih padi untuk menjaga produktivitas di tengah tekanan iklim.
“Air adalah faktor kunci. Oleh karena itu, penguatan irigasi, pembangunan sistem pompa, dan dukungan benih harus berjalan beriringan agar petani dapat terus berproduksi secara optimal,” ujarnya.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah memprediksi bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi lebih panjang dan lebih kering, terutama di wilayah barat dan selatan Indonesia.
Melalui tindakan terkoordinasi, ia berharap ketersediaan air untuk pertanian dapat terjaga, sehingga produksi dan produktivitas padi di Jawa Barat dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan, meskipun menghadapi tantangan perubahan iklim.
