ASIAWORLDVIEW – Konflik di Timur Tengah mulai berdampak pada pariwisata Indonesia, khususnya Bali, dengan munculnya pembatalan perjalanan wisatawan mancanegara dan gangguan penerbangan internasional. Sejumlah pelaku usaha transportasi wisata di Bali melaporkan 60 hingga 70% pembatalan pemesanan setelah konflik Timur Tengah memanas, terutama dari wisatawan mancanegara yang khawatir dengan kondisi penerbangan.
Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Asosiasi Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya, Senin (9/3/2026). Ia mengatakan bahwa wisatawan asing (turis) dari Timur Tengah merupakan salah satu pasar penting bagi pariwisata Bali.
“Wisatawan dari Uni Emirat Arab dan Qatar yang biasanya terbang langsung ke Bandara Internasional Ngurah Rai cukup banyak. Tentu saja, hal ini akan berdampak pada pariwisata Bali. Dan hal ini juga akan berdampak pada ekonomi,” kata Rai dalam pernyataannya.
Selain itu, sejumlah bandara di Timur Tengah telah menjadi titik transit utama bagi wisatawan Eropa yang menuju Bali. Penutupan ruang udara di wilayah konflik telah mengganggu aliran perjalanan wisata.
Baca Juga: Pererenan: Surga Gastronomi Bali dengan Nuansa Lebih Syahdu
“Harapan saya adalah para wisatawan Eropa dapat mengalihkan penerbangan mereka melalui Taipei atau China, RRC. Meskipun, tentu saja, hal ini akan memakan waktu lebih lama karena harus transit dua kali,” kata Rai.
Menariknya, meskipun penerbangan dibatalkan, tingkat okupansi hotel di Bali tidak langsung turun drastis. PHRI mencatat fenomena berbeda di lapangan. Hal ini karena beberapa turis yang sudah berada di Bali tidak dapat kembali ke negara asal mereka akibat gangguan penerbangan.
“Di satu sisi, kedatangan turis baru berkurang, di sisi lain, banyak turis yang terlantar dan tinggal di Bali. Jadi, jumlah kedatangan dan keberangkatan hampir sama,” ujarnya.
“Mereka berasal dari Timur Tengah dan Eropa, masa tinggal mereka cukup lama. Jadi, kekhawatiran psikologis mereka juga berdampak. Ketika mereka merasa tidak aman, mereka membatalkan perjalanan ke Bali. Jadi tidak sedikit yang membatalkan pemesanan,” ujarnya.
Penutupan rute udara dan pembatalan penerbangan dari kawasan Timur Tengah membuat ratusan wisatawan asing di Bali tidak bisa kembali ke negara asal. Imigrasi Bali bahkan mengeluarkan 302 Izin Tinggal Keadaan Terpaksa (ITKT) untuk memastikan keberadaan mereka tetap legal di Indonesia .
