ASIAWORLDVIEW – Sebelum berinvestasi ke sektor memecoin, ada baiknya melakukan riset untuk mengetahui perbandingan Dogecoin (DOGE) dengan Pepe Coin (PEPE). Awalnya hanya dianggap sebagai lelucon atau guyonan di dunia kripto, namun kini telah berubah menjadi fenomena global. Dua nama besar yang kerap menjadi sorotan adalah Dogecoin (DOGE) dan Pepe (PEPE).
Kendati keduanya lahir dari budaya internet yang unik, pendekatan teknologi dan strategi mereka sangat berbeda. Di antara kedua aset digital ini, siapa yang lebih unggul untuk menjadi pilihan investasi pada 2025?
Dogecoin (DOGE) merupalan meme coin pertama. Dogecoin diperkenalkan pada Desember 2013 oleh Billy Markus dan Jackson Palmer sebagai parodi terhadap Bitcoin. Terinspirasi dari meme anjing Shiba Inu, DOGE awalnya dirancang untuk membuat dunia kripto lebih santai dan menyenangkan. Namun, dukungan dari tokoh besar seperti Elon Musk membuat DOGE menjadi salah satu aset digital paling populer.
Baca Juga: Memecoin Lagi Naik Daun, Ketahui Risikonya
DOGE menggunakan mekanisme Proof of Work (PoW) dengan algoritma Scrypt, yang memberikan keunggulan dalam kecepatan transaksi. Namun, sifatnya yang inflasioner, dengan pencetakan 10.000 koin baru setiap menit, memunculkan kekhawatiran tentang depresiasi nilai dalam jangka panjang. DOGE pernah mencapai harga tertinggi sebesar $0,7376 (sekitar Rp11.951) pada Mei 2021, meskipun kini telah kehilangan lebih dari 90% nilainya.
Pepe (PEPE) dianggap pesaing baru, diluncurkan pada April 2023. Merupakan meme coin berbasis Ethereum yang terinspirasi dari karakter meme “Pepe the Frog.” Dengan total suplai 420,69 triliun token dan fitur pembakaran 1% dari setiap transaksi, PEPE mengadopsi pendekatan deflasioner untuk menciptakan kelangkaan dan meningkatkan nilai.
Dalam 17 hari pertama sejak peluncuran, PEPE mencatat kenaikan harga hingga 7000%, meskipun harga tertingginya di sekitar Rp70,73 juga telah turun sekitar 83%. Berbeda dengan DOGE, PEPE lebih berfokus pada spekulasi harga daripada aplikasi praktis.
