Kupas Tuntas Bahaya Gula dan Camilan Manis bagi Kesehatan Jantung

Camilan

ASIAWORLDVIEW – Kecenderungan modern untuk mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula tambahan telah menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kasus penyakit jantung di Indonesia. Gula bukanlah sekadar sumber kalori kosong; ia adalah katalisator biologis yang memicu reaksi berantai metabolik, mulai dari lonjakan berat badan hingga perubahan struktural pada organ vital.

Data epidemiologi menunjukkan bahwa asupan gula berlebih secara langsung berkorelasi dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan diabetes melitus tipe 2, dua kondisi yang oleh para kardiolog disebut sebagai “saudara kembar” pemicu penyakit jantung koroner. Ketika tubuh kelebihan beban memproses fruktosa dan glukosa, hati akan mengubah kelebihan gula menjadi lemak trigliserida, yang kemudian disimpan di jaringan adiposa, menambah beban kerja jantung dan memicu hipertensi.

Direktur Utama RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Annas Ahmad menjelaskan dalam acara ASMIHA 2026 yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Rabu (16/7/2026), konsumsi gula yang terus-menerus dalam jumlah tinggi memicu terjadinya resistensi insulin, sebuah kondisi di mana sel-sel tubuh mulai “tuli” terhadap sinyal hormon insulin yang bertugas memasukkan glukosa ke dalam sel. Akibatnya, pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar secara kompulsif, dan gula darah pun tetap melayang tinggi dalam sirkulasi.

Keadaan hiperglikemia kronis ini bukan hanya membebani pankreas hingga kelelahan, tetapi juga memicu peradangan sistemik tingkat rendah (low-grade systemic inflammation) yang berlangsung terus-menerus. Peradangan inilah yang menjadi tanah subur bagi aterosklerosis, di mana dinding pembuluh darah mengalami iritasi dan cedera oksidatif.

Pada tataran mikroskopis, gula darah tinggi bertindak seperti butiran kaca yang menggores lapisan paling dalam pembuluh darah, yaitu lapisan endotel. Kerusakan endotel ini menghilangkan sifat anti-pembekuan alami pembuluh darah dan menggantinya dengan permukaan lengket yang sangat mudah ditempeli plak lemak (kolesterol jahat atau LDL) dan sel-sel radang. Seiring waktu, penumpukan plak ini menebal dan mempersempit lumen arteri koroner, sehingga aliran darah kaya oksigen menuju otot jantung tersendat.

Baca Juga: ASMIHA 2026, Dorong Terobosan Kesehatan Jantung Nasional

“Jika plak rapuh itu pecah, maka akan terbentuk gumpalan darah (trombus) yang dapat menyumbat total pembuluh darah, berujung pada serangan jantung akut; jika sumbatan terjadi di pembuluh darah otak, maka stroke iskemik pun tak terhindarkan. Tidak hanya itu, gula tambahan secara spesifik terbukti menaikkan kadar trigliserida dan partikel LDL kecil padat (yang paling aterogenik) sekaligus menurunkan kadar kolesterol HDL pelindung, sehingga rasio lipid darah berbalik arah menjadi sangat pro-aterosklerotik,” sebut .

Para ahli gizi klinis dan PERKI telah menetapkan batas aman konsumsi gula tambahan, yakni tidak lebih dari 4 sendok makan (setara 50 gram) per hari. Angka ini bukanlah tanpa alasan; melampaui batas tersebut, risiko resistensi insulin melonjak eksponensial. Namun, masyarakat sering terjebak karena menganggap batas ini masih “longgar”, padahal satu gelas teh manis kemasan ukuran sedang atau satu porsi minuman kopi kekinian sudah dapat menghabiskan 60-70% kuota harian, belum ditambah dengan gula dari nasi, roti putih, dan camilan. Oleh karena itu, menjaga kadar gula darah puasa di bawah 100 mg/dL dan mempertahankan Indeks Massa Tubuh (IMT) pada rentang 18,5–24,9 adalah dua target klinis yang harus dipantau secara rutin, karena keduanya merupakan cermin langsung dari disiplin diet.

“Pencegahan yang paling efektif dimulai dari pergeseran pola makan secara bertahap namun konsisten. Batasi konsumsi minuman manis, baik yang berupa soda, teh botolan, maupun jus kemasan karena cairan tinggi gula diserap tubuh jauh lebih cepat dibandingkan gula padat, sehingga menyebabkan lonjakan gula darah yang drastis dan berbahaya,” ia menambahkan.

Gantilah hasrat terhadap dessert dengan buah-buahan segar utuh, karena kandungan serat larut dan tidak larutnya akan memperlambat absorpsi glukosa di usus, memberi rasa kenyang lebih lama, serta memberi nutrisi mikronutrien yang justru menyehatkan endotel. Kurangi secara signifikan karbohidrat olahan seperti roti putih, nasi putih berlebih, dan kue manis, lalu substitusikan dengan karbohidrat kompleks dari gandum utuh, oatmeal, atau beras merah yang memiliki indeks glikemik rendah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *