Daycare Pintar Fokus pada Karakter Anak, Belajar Sambil Bermain

Daycare Mainstory.

ASIAWORLDVIEW – Memilih daycare untuk anak bukan sekadar soal tempat penitipan, tetapi tentang lingkungan pertama di luar rumah yang ikut membentuk karakter. Hal yang sangat penting lainnya yaitu keamanan.

Mainstory, daycare pintar, memulai setiap program pembelajarannya melalui riset mendalam tentang kebutuhan perkembangan anak sejak usia paling dini. Bahkan, ikut menjaga tumbuh dan kembang anak dengan baik.

Daycare Mainstory dirancang untuk mendampingi anak sejak usia dini hingga mencapai 6 tahun, dengan pendekatan yang menekankan pembelajaran sambil bermain. Program ini tidak hanya berfokus pada stimulasi kognitif dan motorik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kemandirian, serta kebiasaan positif seperti mengucapkan terima kasih

“Mainstory mengadopsi konsep learning by playing atau belajar sambil bermain, sebuah pendekatan yang telah terbukti efektif untuk anak usia 6 bulan hingga 6 tahun, sebut Antoni Lewa, CEO MainStory menjawab pertanyaan Asiaworldview, dalam Konferensi pers Mainstory, Daycare Pintar, yang berlangsung di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Baca Juga: Daycare Masa Kini: Tawarkan Pengasuhan Anak Aman dengan Dukungan Teknologi Canggih

Konferensi pers Mainstory, Daycare Pintar, yang berlangsung di Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Konferensi pers Mainstory, Daycare Pintar, yang berlangsung di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Pada fase ini, dunia anak adalah dunia eksplorasi. Mereka belajar melalui sentuhan, gerak, suara, dan interaksi sederhana. Karena itu, proses belajar tidak dikemas dalam bentuk instruksi kaku, melainkan melalui aktivitas bermain yang menyenangkan dan alami, sehingga anak merasa aman, nyaman, dan bebas mengekspresikan diri. Perlu dicatat,

Program pembelajaran di Mainstory dirancang bertahap dan sesuai usia. Setiap tahap memiliki stimulasi yang disesuaikan dengan perkembangan motorik, sensorik, dan emosional anak. Untuk bayi, fokus diberikan pada stimulasi indra, koordinasi gerak, serta rasa percaya terhadap lingkungan. Sementara pada usia yang lebih besar, anak mulai dikenalkan pada aktivitas yang melatih konsentrasi, koordinasi tangan-mata, dan kemampuan menyelesaikan tugas sederhana.

“Dengan tahapan yang disusun berdasarkan prinsip Montessori namun tetap disesuaikan dengan budaya Indonesia, anak-anak dibimbing secara bertahap mulai dari usia bayi hingga kindergarten. Tujuannya adalah agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan siap menghadapi jenjang pendidikan berikutnya, sekaligus tetap terhubung dengan nilai-nilai lokal yang relevan dengan kehidupan sehari-hari,” ia menambahkan.

Namun, yang membuat pendekatan ini istimewa adalah adaptasinya dengan budaya Indonesia. Aktivitas, bahasa, dan kebiasaan yang diperkenalkan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, sehingga proses belajar terasa lebih natural dan relevan.

“Salah satu fokus utama Mainstory yaitu menanamkan kemandirian sejak dini. Anak secara perlahan diajak untuk melakukan aktivitas sederhana secara mandiri, seperti merapikan mainan, memilih aktivitas, atau mencoba makan sendiri sesuai usia dan kemampuannya. Proses ini dilakukan dengan penuh kesabaran dan pendampingan, tanpa paksaan, sehingga anak merasa percaya diri dan bangga terhadap pencapaiannya,” pungkasnya.