ASIAWORLDVIEW – Demon Slayer telah menjadi fenomena besar, baik di Jepang maupun di Indonesia. Penggemar manga dan anime shounen tak sabar dengan kisah perjalanan Tanjiro bergabung dengan Korps Pembasmi Iblis hingga pertarungan terakhir melawan Muzan Kibutsuji.
Pada tahun 2025, popularitas Demon Slayer meledak kembali berkat satu proyek besar, yaitu Demon Slayer: Infinity Castle Part 1 — Akaza’s Return. Film ini sangat sukses dan memecahkan rekor di seluruh dunia.
Demon Slayer membuktikan pada 2025 bahwa ia benar-benar layak disebut raja anime modern. Serial ini mencapai tingkat kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan film Infinity Castle.
Cerita dimulai dengan Final Selection Arc, yang menjadi gerbang awal Tanjiro Kamado memasuki dunia Pembasmi Iblis. Dalam arc ini, Tanjiro harus mengikuti ujian mematikan di Gunung Fujikasane, tempat para calon pembasmi diuji selama beberapa hari melawan iblis liar. Arc ini menekankan ketangguhan mental dan empati Tanjiro, yang tetap menunjukkan belas kasih bahkan kepada iblis, sekaligus menegaskan tekadnya untuk melindungi Nezuko, sang adik yang telah berubah menjadi iblis namun masih mempertahankan sisi kemanusiaannya.
Setelah lulus ujian, cerita berlanjut ke First Mission Arc dan Asakusa Arc. Di sinilah Tanjiro menjalani misi pertamanya sebagai pembasmi iblis dan mulai memahami realitas kelam pekerjaannya. Asakusa Arc menjadi titik penting karena memperkenalkan Muzan Kibutsuji, iblis pertama dan sumber dari semua iblis. Pertemuan singkat namun menegangkan ini membangun konflik utama seri, sekaligus memperlihatkan betapa berbahayanya Muzan.
Baca Juga: Kenangan Tak Terlupakan Symphonic Saga: Iconic Scores from Anime & Games

Kemudian hadir Tsuzumi Mansion Arc dan Mount Natagumo Arc, yang meningkatkan skala ancaman. Tsuzumi Mansion Arc memperlihatkan pertarungan melawan iblis dengan kemampuan unik berbasis suara, serta menjadi ajang pengenalan lebih jauh bagi Zenitsu dan Inosuke. Sementara itu, Mount Natagumo Arc menjadi salah satu arc paling emosional dan brutal, menampilkan keluarga iblis laba-laba yang sangat kuat.
Setelah rentetan pertempuran berat, cerita melambat sejenak dalam Rehabilitation Training Arc, yang berfokus pada pemulihan fisik dan mental Tanjiro, Zenitsu, dan Inosuke. Arc ini menyoroti pentingnya latihan, disiplin, dan dukungan sesama pembasmi. Namun ketenangan ini tidak berlangsung lama karena langsung disusul Mugen Train Arc, salah satu arc paling ikonik. Di sini, Tanjiro dan kawan-kawan bekerja sama dengan Hashira Api, Kyojuro Rengoku, menghadapi iblis Enmu dan kemudian iblis tingkat atas Akaza.
Cerita kemudian bergerak ke Entertainment District Arc, yang membawa Tanjiro, Zenitsu, dan Inosuke bekerja sama dengan Hashira Suara, Tengen Uzui. Arc ini menampilkan pertarungan intens melawan iblis tingkat atas Daki dan Gyutaro, dengan visual dan koreografi pertarungan yang spektakuler.

Swordsmith Village Arc, yang berfokus pada desa rahasia tempat pedang Nichirin dibuat. Di sini, Tanjiro berhadapan dengan iblis tingkat atas Hantengu dan Gyokko, sambil berinteraksi lebih dekat dengan Hashira Kabut, Muichiro Tokito, dan Hashira Cinta, Mitsuri Kanroji.
Menjelang akhir cerita, Hashira Training Arc berfungsi sebagai fase persiapan besar-besaran. Para pembasmi iblis menjalani latihan ekstrem di bawah bimbingan para Hashira untuk meningkatkan kemampuan mereka sebelum pertempuran terakhir.
Puncak cerita terjadi dalam Final Battle Arc, yang terbagi menjadi Infinity Castle Arc dan Sunrise Countdown Arc. Di Infinity Castle, para pembasmi menghadapi iblis tingkat atas dalam pertempuran hidup dan mati yang berlangsung serentak, penuh strategi dan pengorbanan. Sementara Sunrise Countdown Arc menjadi klimaks emosional dan naratif, memperlihatkan pertarungan terakhir melawan Muzan Kibutsuji hingga terbitnya matahari. Arc penutup ini merangkum seluruh tema Demon Slayer, tentang harapan, kehilangan, dan keberanian manusia dalam melawan kegelapan.
