Menteri Rosan Roeslani: Hilirisasi Dorong Indonesia Keluar dari Middle Income Trap

Menteri Investasi Rosan Roeslani.

ASIAWORLDVIEW – Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menegaskan, Senin (15/12/2025), bahwa posisi Indonesia di panggung global semakin kuat berkat penguasaan komoditas strategis seperti nikel dan minyak sawit. Kedua komoditas ini bukan hanya menjadi tulang punggung ekspor nasional, tetapi juga berperan penting dalam rantai pasok internasional, khususnya untuk industri energi terbarukan, baterai kendaraan listrik, serta kebutuhan pangan dan industri berbasis minyak nabati.

“Sumber daya inilah yang menempatkan negara kita di inti agenda transisi energi global,” tegasnya. Roeslani telah berulang kali menggemakan sentimen ini.

Pengakuan global terhadap Indonesia sebagai kekuatan komoditas mencerminkan keberhasilan strategi hilirisasi yang mendorong nilai tambah di dalam negeri, sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Baca Juga: Indonesia Komitmen Impor Minyak dari AS di Tengah Negosiasi Trump Tarif

Pemerintah menegaskan kembali komitmennya untuk meningkatkan nilai sumber daya alam Indonesia melalui upaya hilirisasi, dengan tujuan mengangkat negara keluar dari perangkap pendapatan menengah dan mengubahnya menjadi negara industri maju.

Ia mengaitkan tren positif ini dengan arah pertumbuhan pemerintah yang tepat sasaran, yang menetapkan hilirisasi sumber daya alam strategis sebagai fondasi kedaulatan ekonomi dan rantai nilai Indonesia. Antara Januari dan September 2025, lanjutnya, sektor hilir menarik investasi sebesar Rp431 triliun yang menyumbang lebih dari 30 persen dari realisasi investasi nasional.

Sebagai CEO lembaga pengelola investasi Danantara, ia menggarisbawahi kebutuhan Indonesia akan investasi senilai USD815 miliar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi delapan persen dalam lima tahun ke depan.

Ia juga menyoroti bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan transformasi struktural, yang mendorong pemerintah untuk menarik investasi berkualitas tinggi guna meningkatkan produktivitas, mendorong transfer teknologi, dan memperkuat rantai nilai domestik.

“Kami juga mendorong reformasi fiskal dan optimalisasi pajak, memanfaatkan pajak sebagai insentif untuk menumbuhkan inovasi dan mendukung transisi hijau,” ujarnya.