ASIAWORLDVIEW – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa perbaikan transmisi kebijakan moneter, yakni semakin efektifnya penyaluran dampak kebijakan suku bunga dan likuiditas ke sektor riil. Kondisi ini memperkuat daya dorong terhadap pembiayaan konsumsi masyarakat. Momentum ini diperkuat oleh pola belanja musiman rumah tangga menjelang Natal dan Tahun Baru, di mana permintaan terhadap barang dan jasa biasanya meningkat signifikan.
Hal itu diungkapkan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Ia menilai bahwa kredit konsumsi sejauh ini masih tumbuh meskipun termoderasi, dikutip dari Antara, Senin (24/11/2025).
“OJK menekankan pemulihan kredit konsumsi bergantung pada perbaikan permintaan domestik, transmisi penurunan suku bunga ke lending rate, serta perbaikan pendapatan rumah tangga yang dapat mempengaruhi daya beli masyarakat,” ia menyatakan.
Baca Juga: OJK Ingatkan Kasus Penipuan Marak akibat Penyalahgunaan Informasi Pribadi
Hingga September 2025, kredit konsumsi tumbuh sekitar 7,42 persen year on year (yoy). OJK mencatat risiko kredit sedikit meningkat di segmen konsumsi pada periode tersebut, tercermin dari rasio non-performing loan (NPL) yang meningkat menjadi sebesar 2,37 persen dibandingkan posisi September 2024 sebesar 1,85 persen.
Hal ini sejalan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang bersumber dari konsumsi rumah tangga maupun indikator terkait daya beli konsumen yang masih tumbuh terbatas.
Menurut catatan OJK, perlambatan paling nyata terjadi pada kredit pemilikan rumah (KPR) serta kredit kendaraan bermotor (KKB). KPR tumbuh termoderasi pada September 2025 sebesar 7,26 persen dibandingkan posisi September 2024 sebesar 10,89 persen. Sedangkan KKB pada September 2025 tumbuh sebesar 0,72 persen dibandingkan posisi September 2024 sebesar 9,00 persen sehingga berkontribusi menahan laju pertumbuhan kredit konsumsi.
“Lemahnya pertumbuhan KKB juga sejalan dengan masih terkontraksinya penjualan kendaraan bermotor selama setahun terakhir,” pungkasnya.
