Google: Indonesia Pimpin Adopsi AI di Asia Tenggara

Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia dalam paparannya Laporan e-Conomy SEA Report 2025, Kamis (13/11/2025).

ASIAWORLDVIEW Indonesia dipandang sebagai kunci masa depan Asia Tenggara yang digerakkan oleh kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Hal itu karena memiliki kombinasi unik antara populasi besar, ekosistem digital yang berkembang pesat, serta dukungan pemerintah terhadap transformasi teknologi.

Dengan lebih dari 270 juta penduduk dan tingkat penetrasi internet yang terus meningkat, Indonesia menjadi pasar utama bagi adopsi solusi berbasis AI di berbagai sektor, mulai dari e-commerce, layanan keuangan digital, hingga kesehatan dan pendidikan.

“Investasi pada konektivitas dalam beberapa tahun terakhir telah membangun fondasi yang kuat bagi Indonesia untuk memimpin transformasi AI. Kami melihat adopsi yang luas di kalangan bisnis, permintaan pasar yang kuat, dan respon positif pengguna yang luar biasa,” jelas Veronica Utami, Country Director, Google Indonesia dalam paparannya Laporan e-Conomy SEA Report 2025, Kamis (13/11/2025).

Masyarakat di Indonesia sudah mulai beradaptasi dengan AI tertinggi kedua di kawasan. Antusiasme ini juga tercermin di pasar dengan pertumbuhan pendapatan aplikasi berbasis AI yang melonjak hingga 127% antara paruh pertama 2024 dan paruh pertama 2025, tertinggi di Asia Tenggara.

Baca Juga: Teknologi AI, Kunci Efisiensi dan Adaptasi di Dunia Kuliner yang Terus Berubah

Lebih dari sekadar penggunaan harian, semangat untuk bertransformasi dengan AI juga terlihat di dunia kerja: 79% pengguna aktif mempelajari dan meningkatkan keterampilan terkait AI. Motivasi utama mereka adalah untuk meningkatkan efisiensi, menghemat waktu riset dan perbandingan (51%), mendapatkan rekomendasi yang lebih personal (35%), serta keamanan yang lebih baik (32%).

“Semuanya menegaskan bahwa AI bukan sekadar gelombang teknologi baru, tetapi akan mengubah cara bisnis beroperasi dan berkembang. Namun, ekosistem pengembang dan startup lokal perlu tumbuh lebih cepat agar dapat menyeimbangkan permintaan besar dari konsumen dan tenaga kerja,” ia menambahkan.

Namun, di tengah tingginya permintaan ini, investasi modal yang masuk ke sektor AI Indonesia masih belum sebanding dengan potensinya. Jumlah startup AI di Indonesia lebih dari 45 dan porsi pendanaan atau 4% dari total ASEAN. Angka ini masih jauh di bawah pusat regional seperti Singapura dengan 495 lebih dan Malaysia berjumlah 60 startup.

Selain itu, investasi asing dan kolaborasi dengan perusahaan teknologi global mempercepat pengembangan infrastruktur data, pusat riset, serta talenta lokal yang siap bersaing di tingkat regional. Ketika AI semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, Indonesia berpotensi menjadi pusat inovasi dan penggerak utama ekonomi digital Asia Tenggara, sekaligus menciptakan standar baru bagi negara-negara tetangga dalam memanfaatkan teknologi untuk pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan.