ASIAWORLDVIEW – Posisi Indonesia yang semakin menonjol sebagai kekuatan utama ekonomi digital di Asia Tenggara. Kondisi ini didukung oleh populasi masyarakat sadar teknologi yang terus berkembang, infrastruktur yang semakin baik, serta investasi strategis antara sektor publik dan swasta, Indonesia kini berada di garis depan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan kecerdasan buatan pun mulai dilakukan di berbagai lini, termasuk dalam bidang riset.
Editage berkomitmen untuk mendukung para penyandang dana, universitas, dan peneliti melalui serangkaian fitur layanan Artificial Intelligence yang komprehensif dan berbasis manusia. Upaya ini difokuskan untuk pengembangan sains dan teknologi, mendorong kemajuan nasional, dan berkontribusi pada penciptaan pengetahuan global.
Ruchi Chauhan, Vice President & Head of Marketing (ROW), Cactus Communications, mengatakan, Rabu (5/11/2025), “Para penyandang dana memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana penelitian dapat didukung dan diperluas jangkauannya. Di Editage, kami percaya bahwa jika dikembangkan dan diterapkan secara etis, AI dapat membantu para penyandang dana dan institusi membuat proses penelitian menjadi lebih transparan, inklusif, dan efisien. Khususnya di negara berkembang seperti Indonesia, AI menjadi teknologi yang dapat diandalkan ketika dipadukan dengan keahlian manusia, untuk membantu para peneliti menyampaikan gagasannya secara yakin, bertanggung jawab, dan berintegritas di tataran global.
Baca Juga: Teknologi AI, Kunci Efisiensi dan Adaptasi di Dunia Kuliner yang Terus Berubah
Teknologi AI bukan menghilangkan “pekerjaan”, justru bisa membantu. Justru berpusat pada manusia, ternyata memainkan peran krusial dalam mendorong kemajuan riset dan penulisan ilmiah. Kini erdapat alat yang intuitif, kolaboratif, dan adaptif terhadap kebutuhan peneliti. Platform digital yang dirancang dengan pendekatan human-centric memungkinkan proses pengumpulan data, analisis, dan publikasi menjadi lebih efisien dan inklusif, sekaligus memperkuat integritas akademik.
Teknologi semacam ini membantu menyelaraskan alur kerja antara peneliti, institusi, dan lembaga pendanaan melalui sistem transparan, otomatisasi pelaporan, dan pemantauan real-time. Institusi pendidikan tinggi dan lembaga pendanaan dapat membangun reputasi jangka panjang yang kuat, berbasis pada akuntabilitas, produktivitas ilmiah, dan dampak sosial yang terukur. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat ekosistem riset, tetapi juga memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan relevan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
Ia menambahkan, “Visi ini sejalan dengan tujuan Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi), yaitu mengembangkan peta jalan AI nasional untuk memastikan penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan etis di semua sektor.”
