ASIAWORLDVIEW – Menopause umumnya terjadi di usia sekitar 51 tahun. Penurunan hormon estrogen yang terjadi pada fase ini dapat memicu berbagai gejala fisik dan emosional. Kondisi ini termasuk dari hot flashes, gangguan tidur, perubahan mood, hingga penurunan gairah seksual.
dr. Ni Komang Yeni, Sp.OG, MM, MARS, Ketua PERMINESIA JAYA, menyatakan, Kamis (16/10/2025), “Kami melihat penting untuk mengedukasi perempuan Indonesia mengenai perbedaan antara sekadar menurunkan berat badan dan menurunkan lemak tubuh karena pendekatan ini lebih berfokus pada kesehatan sejati, terutama dalam menghadapi fase menopause.”
Hormon estrogen yang menurun saat menopause dapat memengaruhi metabolisme dan penyimpanan lemak, membuat perempuan lebih rentan terhadap kenaikan berat badan. Namun, banyak yang melakukan diet ekstrim dan olahraga yang tidak konsisten sehingga justu lebih berbahaya.
Baca Juga: Girls Day Out 2025 Memberdayakan Perempuan Lewat Selancar
Penurunan berat badan secara umum sering kali hanya berfokus pada angka di timbangan. Namun, angka tersebut tidak membedakan antara massa otot, air, dan lemak. Sebaliknya, penurunan lemak tubuh menargetkan timbunan lemak yang berlebihan, yang merupakan indikator kesehatan yang lebih akurat. Keduanya harus seimbang, tidak boleh hanya masa ototnya yang hilang atau hanya lemaknya yang hilang, karena keduanya tetap punya fungsi masing-masing untuk menjaga kebugaran perempuan di masa menopause.
Secara global dan di Indonesia, terjadi peningkatan usia harapan hidup, yang berarti semakin banyak perempuan yang mencapai usia tua dan mengalami menopause. Akhirnya, semakin banyak yang mengalami penurunan kualitas hidup.
“Perempuan yang masuk ke masa menopause sendiri sudah m emiliki peningkatan risiko kesehatan, sehingga tidak boleh salah dalam me-maintain tubuhnya. Dari sisi medis, dampaknya cukup signifikan,” ia menambahkan.
Risiko penyakit jantung dan pembuluh darah meningkat karena hilangnya efek protektif estrogen terhadap jantung. Penurunan kadar estrogen juga berpotensi menyebabkan osteoporosis, membuat tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Selain itu, perempuan menopause sering mengalami masalah perkemihan seperti inkontinensia urin, gangguan tidur, hingga perubahan pada gusi dan mulut.
