ASIAWORLDVDIEW – Harga Bitcoin (BTC) kembali terpuruk ke level terendah dalam tujuh pekan setelah sempat melonjak di atas US$80.000 sehari sebelumnya, membalikkan seluruh euforia pasca-pemilu sela Amerika Serikat pada Jumat (6/11/2026). Data dari CoinMarketCap per pukul 07:08 WIB menunjukkan BTC diperdagangkan di US$76.119,08 atau setara sekitar Rp1,38 miliar per keping.
Bitcoin alami kenaikan mingguan sebesar 2,43% namun anjlok 5,41% dalam 24 jam terakhir. Sumber lain mencatat posisi yang sedikit lebih rendah: CNBC Indonesia melaporkan BTC turun 5,54% ke US$76.188,62.
Faktor dominan yang menjatuhkan Bitcoin hari ini adalah aksi jual besar-besaran di bursa saham Amerika Serikat, yang secara brutal menghapus kenaikan yang sempat terjadi setelah pemilu sela. Kemenangan Partai Demokrat yang awalnya disambut positif—karena dianggap mengurangi risiko ekspansi fiskal agresif—justru berbalik menjadi kekhawatiran baru: pasar mulai mencermati potensi pengetatan regulasi terhadap sektor teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, dan pusat data.
Baca Juga: Harga Bitcoin Rebound, Mencapai Level Psikologis US$80.000
Tekanan di Wall Street sangat dalam, dengan Nasdaq Composite anjlok 5,5% dan resmi masuk wilayah koreksi, sementara S&P 500 turun 4,4% dan Dow Jones melemah 3,4%—kinerja harian terburuk sejak April 2025. Efek contagion ini menjalar cepat ke aset berisiko lainnya, termasuk Bitcoin, yang semakin berkorelasi dengan pergerakan saham teknologi.
Dari perspektif teknikal, Bitcoin berada di titik kritis. Harga sempat menembus ke bawah 50-week simple moving average (SMA) di level US$75.733 sebelum akhirnya bertahan tipis di atasnya. Trader veteran Rekt Capital menyoroti bahwa Bitcoin saat ini mengulangi pola yang terjadi pada Mei, ketika pergerakan terbatas di sekitar US$80.000 berujung pada breakdown dan penurunan ke level makro US$57.000 pada akhir Juni.
Jika support US$75.000–US$76.000 gagal dipertahankan, risiko koreksi lebih dalam ke area US$70.000 menjadi semakin terbuka. Sebaliknya, untuk kembali bullish, BTC perlu merebut kembali level US$80.000 dengan volume yang meyakinkan—sesuatu yang tampaknya masih jauh dari jangkauan dalam jangka pendek.
Ironisnya, pada Kamis (5/11), Bitcoin sempat melonjak lebih dari 6% dan menembus US$80.500–US$80.700 setelah kemenangan Demokrat di pemilu sela dianggap menghilangkan ketidakpastian politik. Namun, euforia itu hanya bertahan sehari. Investor dengan cepat beralih fokus dari “ketidakpastian politik yang mereda” menjadi “risiko regulasi yang meningkat” bagi industri teknologi dan aset digital.

