ASIAWORLDVIEW – NTT DATA mulai mengoperasikan Global Data Centers Jakarta 2 Annex (JKT2A). Fasilitas ini dirancang sebagai pusat data tujuh lantai dengan kapasitas beban TI kritis sebesar 12 megawatt dan luas sekitar 5.800 meter persegi.
Data center ini memungkinkan perusahaan, penyedia layanan cloud, dan pengembang aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) menjalankan operasi mereka dengan lebih efisien. JKT2A dirancang untuk mendukung kebutuhan komputasi berkepadatan tinggi—hingga 40 kilowatt per rak—sebuah spesifikasi yang relevan bagi beban kerja AI yang menuntut daya komputasi besar dan pendinginan yang intensif.
“NTT DATA akhirnya membangun dan mengembangkan data center di Jakarta, karena fasilitas yang berada dekat dengan pelanggan dapat melayani kebutuhan digital Indonesia secara lebih langsung. Pasar di Indonesia, cukup besar. Akhirnya menjadi target market kami,” Katsuhiko Kawazoe, NTT Inc dalam konferensi pers, Selasa (3/11/2026).
Permintaan kapasitas pusat data lokal meningkat seiring pertumbuhan layanan cloud, e-commerce, perbankan digital, streaming, dan kecerdasan buatan. Perusahaan yang memproses data pengguna Indonesia juga dapat membutuhkan infrastruktur di dalam negeri untuk memenuhi kebijakan dan kebutuhan lokalisasi data.
Baca Juga: NTT DATA Operasikan JKT2A, Perkuat Posisi Indonesia dalam Ekonomi Digital
NTT DATA dapat menawarkan penyimpanan serta komputasi dengan jarak lebih dekat ke pengguna dan bisnis lokal, yang membantu mengurangi latensi—jeda waktu saat data dikirim dan diterima. NTT DATA sendiri memaparkan Jakarta sebagai salah satu lokasi pusat datanya di Asia Pasifik, dan sebelumnya mengumumkan perluasan fasilitas serta jaringan pusat data di Indonesia untuk mendukung kebutuhan platform AI generatif.
Jakarta juga memberi NTT DATA akses langsung ke pasar Indonesia yang besar, tanpa harus menjadikan Singapura sebagai perantara bagi seluruh layanan. Pusat data lokal bisa menjadi pilihan bagi perusahaan yang mengutamakan kedaulatan dan kendali atas data, maupun membutuhkan dukungan teknis dan konektivitas di dalam negeri.
Dari sisi jaringan, fasilitas NTT DATA di Jakarta disebut memiliki akses ke beragam penyedia jaringan dan titik pertukaran internet, sehingga pelanggan dapat menghubungkan sistem mereka dengan operator, penyedia cloud, dan mitra bisnis. Keberadaan ekosistem konektivitas seperti ini penting karena pusat data bukan sekadar bangunan berisi server: nilainya juga ditentukan oleh seberapa mudah dan cepat pelanggan dapat mengakses jaringan serta layanan lain.
“Faktor biaya dan ketersediaan ruang turut memengaruhi pilihan lokasi. Sejumlah laporan membandingkan biaya pembangunan pusat data dan menyebut Jakarta relatif lebih kompetitif daripada Singapura,” jelasnya lagi.
Singapura, sementara itu, memiliki keterbatasan lahan dan sumber daya untuk menambah kapasitas pusat data, sehingga ekspansi bisa lebih sulit atau mahal. Jakarta menawarkan peluang pembangunan yang lebih luas, meskipun proyek tetap harus mempertimbangkan kesiapan pasokan listrik, air, jaringan, lahan, dan perizinan. Artinya, biaya konstruksi yang lebih rendah tidak otomatis membuat operasional lebih sederhana; pengembang tetap perlu memastikan fasilitas dapat beroperasi stabil dan memenuhi standar keandalan tingg
